Momen Lebaran seringkali identik dengan hiruk pikuk kegembiraan, silaturahmi, dan tentunya, peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Bagi para pedagang kecil di sekitar destinasi wisata populer, periode ini biasanya menjadi musim panen yang ditunggu-tunggu. Namun, tidak semua merasakan manisnya berkah Lebaran tahun ini, seperti yang dialami oleh Nenek Ameh, seorang penjual tikar di kawasan Ragunan.
Berbeda dari pedagang musiman yang hanya muncul saat liburan tiba, Nenek Ameh adalah sosok yang tak asing bagi pengunjung setia. Setiap hari, tanpa mengenal lelah, ia menjajakan tikar dagangannya tepat di depan gerbang Taman Margasatwa Ragunan. Kehadirannya yang konsisten selama bertahun-tahun seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap area tersebut. Sayangnya, semangat pantang menyerahnya kini diuji oleh kondisi pasar yang lesu.
Pada Lebaran tahun ini, Nenek Ameh merasakan penurunan drastis jumlah pembeli. Alih-alih meraup untung lebih dari keramaian pengunjung kebun binatang yang biasanya melonjak saat libur Lebaran, dagangannya justru sepi peminat. Situasi ini tentu sangat memberatkan bagi Nenek Ameh yang mengandalkan penjualan tikar untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Penurunan omzet ini mengindikasikan adanya pergeseran pola belanja masyarakat atau mungkin dampak kondisi ekonomi yang lebih luas.
Kisah Nenek Ameh menyoroti realitas pahit yang dihadapi banyak pelaku usaha mikro di Indonesia. Meskipun gigih dan berdedikasi tinggi, mereka seringkali rentan terhadap fluktuasi pasar dan perubahan kebiasaan konsumen. Di tengah gegap gempita perayaan Idulfitri, perjuangan para pedagang kecil seperti Nenek Ameh mengingatkan kita akan pentingnya dukungan komunitas dan keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan.