Sebuah pemandangan langka menyapa warga Ibu Kota Jakarta beberapa hari setelah berakhirnya periode cuti bersama Lebaran. Jalanan yang biasanya padat merayap dan dipenuhi deru klakson, kini justru menunjukkan kondisi yang jauh berbeda: lengang, lancar, dan relatif sepi. Fenomena ini tentu saja mengejutkan sekaligus melegakan bagi para pengguna jalan.
Kemacetan yang seolah menjadi identitas Jakarta, kini sejenak menghilang. Berbagai ruas jalan utama, mulai dari protokol hingga jalan tol dalam kota, terpantau memperlihatkan kelancaran arus lalu lintas yang tidak biasa di hari kerja pasca-libur panjang. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan indikasi kuat bahwa denyut aktivitas kota belum sepenuhnya kembali normal.
Survei dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa volume kendaraan yang melintas masih tergolong rendah. Jumlah mobil pribadi, sepeda motor, maupun angkutan umum belum mencapai puncaknya sebagaimana kondisi normal sebelum Lebaran. Alhasil, perjalanan yang biasanya memakan waktu berjam-jam kini bisa ditempuh dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Penyebab utama dari kelancaran ini adalah masih banyaknya warga yang menikmati sisa-sisa libur Lebaran. Sebagian besar pekerja, pelajar, dan keluarga memilih untuk memperpanjang waktu berlibur di kampung halaman atau destinasi wisata. Mereka belum kembali sepenuhnya ke Jakarta, menunda kepulangan hingga awal pekan depan atau bahkan lebih lama, demi menghindari puncak arus balik dan menikmati momen bersantai lebih lama.
Pemerintah dan pihak kepolisian memperkirakan bahwa puncak kepadatan arus balik Lebaran mungkin akan berlangsung secara bertahap, bukan dalam satu waktu. Kondisi ini membuat Jakarta untuk sementara waktu dapat bernapas lega, terbebas dari jeratan kemacetan yang melelahkan. Namun, euforia kelancaran ini diprediksi tidak akan bertahan lama. Seiring berjalannya waktu dan kembalinya seluruh aktivitas masyarakat, wajah asli Jakarta dengan kemacetannya yang khas akan segera menyapa kembali.