Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk berkontribusi sebesar Rp 808 triliun kepada negara. Target ini bertujuan untuk mewujudkan APBN tanpa defisit pada tahun 2027 atau 2028. Hal ini merupakan langkah signifikan dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara dan memperbaiki pengelolaan keuangan.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan kesiapannya untuk memenuhi target tersebut. Pihaknya akan memanfaatkan investasi, aset, dan ekuitas yang dimiliki Danantara secara maksimal. “Kita akan coba melakukan semaksimal mungkin. Dengan investasi yang ada, dengan aset yang ada, dan juga dengan equity kita yang ada,” ujar Rosan saat ditemui di Gedung DPR RI.
Target kontribusi Danantara sebesar Rp 808 triliun didasarkan pada perhitungan *Return on Asset* (ROA) yang diharapkan. Presiden Prabowo memperkirakan aset BUMN lebih dari USD 1.000 miliar, dan mengharapkan kontribusi minimal USD 50 miliar (sekitar Rp 808 triliun dengan kurs Rp 16.162 per dolar AS). Dengan asumsi ROA 5 persen dari total aset tersebut, angka Rp 808 triliun dinilai dapat dicapai.
“Saudara-saudara sekalian, aset yang dimiliki bangsa Indonesia, yang berada di BUMN-BUMN kita, asetnya adalah senilai lebih dari USD 1.000 miliar. Harusnya BUMN itu menyumbang kepada kita minimal USD 50 miliar. Kalau USD 50 miliar (disumbang Danantara ke Negara), APBN kita tidak defisit,” tegas Presiden Prabowo dalam Pidato Nota Keuangan.
Selain target kontribusi finansial, Presiden Prabowo juga menginstruksikan Danantara untuk melakukan pembenahan di tubuh BUMN. Salah satu fokus utama adalah efisiensi manajemen, khususnya terkait jumlah komisaris. Presiden Prabowo menilai jumlah komisaris BUMN saat ini terlalu banyak dan perlu dikurangi.
“Saya memberi tugas kepada Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia untuk membereskan BUMN-BUMN kita. Tadinya pengelolaannya secara tidak masuk akal, perusahaan rugi komisarisnya banyak banget, saya potong setengah komisarisnya paling banyak 6 orang, kalau bisa cukup 4 atau 5,” jelas Presiden Prabowo. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kinerja BUMN secara keseluruhan.
Target ambisius ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi Danantara dalam mencapai target tersebut. Apakah Danantara akan mengandalkan divestasi aset, peningkatan pendapatan BUMN, atau kombinasi keduanya? Transparansi dan detail rencana aksi Danantara sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan inisiatif ini. Keberhasilan rencana ini juga akan bergantung pada kemampuan Danantara dalam mengelola investasi dan aset BUMN secara efektif dan efisien.
Terlepas dari tantangannya, rencana ini merupakan langkah berani dalam upaya pemerintah untuk mencapai APBN tanpa defisit. Keberhasilannya akan berdampak positif pada perekonomian Indonesia. Namun, pengawasan dan evaluasi yang ketat diperlukan untuk memastikan pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel. Selain itu, dukungan penuh dari seluruh stakeholder, termasuk BUMN, juga sangat penting untuk keberhasilan rencana ini. Keberhasilan ini juga akan menjadi bukti nyata dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang lebih baik.