Momen Hari Raya Idulfitri selalu menjadi waktu istimewa yang mempererat tali silaturahmi dan solidaritas. Bagi seorang pemimpin negara, kehadiran di tengah masyarakat pada hari besar keagamaan ini bukan sekadar rutinitas protokoler, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang kedekatan dan kepedulian mendalam. Inilah yang tampak dari gestur Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, saat memilih Aceh sebagai lokasi pelaksanaan salat Idulfitri tahun ini.
Langkah Prabowo tersebut langsung mendapat apresiasi hangat dari Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Bachtiar Najamudin. Menurut Sultan, kehadiran seorang pemimpin nasional di tengah-tengah rakyatnya, apalagi dalam suasana sakral seperti salat Id, menegaskan karakter kepemimpinan yang berlandaskan empati dan semangat kebersamaan. Ini menjadi sorotan utama dalam pandangannya mengenai aksi Prabowo di Serambi Mekkah.
Sultan Bachtiar secara spesifik menyoroti esensi kepemimpinan yang berlandaskan empati. Ia berpendapat bahwa tindakan Prabowo memilih Aceh untuk menunaikan salat Idulfitri merupakan wujud konkret dari seorang pemimpin yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional turut merasakan denyut nadi kehidupan rakyatnya. Hal ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan ideal melibatkan kepekaan terhadap berbagai kondisi masyarakat, jauh melampaui sebatas kebijakan di atas kertas.
Selain dimensi empati, Ketua DPD RI itu juga menekankan bahwa kehadiran Prabowo di Aceh memperkuat simbolisme kebersamaan. Momen salat Idulfitri, yang secara alami menyatukan jutaan umat Muslim dalam suasana khidmat dan kebahagiaan, menjadi wadah ideal untuk menunjukkan soliditas dan ikatan kebangsaan. Menurut Sultan, gestur ini menegaskan kembali pentingnya pemimpin untuk senantiasa hadir dan berbaur, menciptakan rasa persatuan di tengah keberagaman Indonesia yang kaya.
Sikap kepemimpinan yang hadir dan berempati ini, menurut Sultan, merupakan teladan berharga bagi para pemangku kebijakan lainnya. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya membuat keputusan dari balik meja kerja, tetapi juga turun langsung, mendengarkan, serta merasakan apa yang menjadi aspirasi dan tantangan masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran Prabowo di Aceh, menurut DPD, lebih dari sekadar partisipasi; ini adalah sebuah pesan kuat tentang model kepemimpinan yang diinginkan dan diidamkan rakyat.