Ibu Kota Jakarta, dengan segala dinamikanya, tak lepas dari persoalan pelik yang selalu mengintai: tumpukan sampah. Setiap hari, jutaan ton sampah diproduksi, menciptakan beban luar biasa bagi fasilitas pengelolaan akhir seperti Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Kondisi ini terus memicu kekhawatiran akan kapasitas dan keberlanjutan Bantar Gebang, yang seolah menjadi ‘gunung’ permasalahan tak berujung.
Menyadari urgensi ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta melalui Panitia Khusus (Pansus) penanganan sampah, kini bergerak cepat merancang solusi konkret. Mereka tidak hanya fokus pada penanganan akhir, melainkan juga menyoroti pentingnya pendekatan dari hulu. Sebuah strategi inovatif digagas untuk meredakan tekanan pada Bantar Gebang secara signifikan.
DPRD DKI Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber
Anggota Pansus DPRD DKI, Judistira, menegaskan bahwa kunci utama dalam mengatasi krisis sampah adalah pengelolaan yang dimulai langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga dan berbagai institusi penghasil sampah. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan hanya bergantung pada upaya penanganan di ujung sistem.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Pansus DPRD DKI berencana mengintensifkan program bank sampah di seluruh wilayah Jakarta. Bank sampah berperan vital dalam memilah dan mendaur ulang sampah anorganik, mengubahnya menjadi nilai ekonomis serta mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Selain bank sampah, program komposting juga akan digencarkan. Proses komposting memungkinkan sampah organik, yang menjadi mayoritas volume sampah harian, diubah menjadi pupuk yang bermanfaat. Dengan mengelola sampah organik secara mandiri, jumlah sampah yang harus diangkut ke Bantar Gebang dapat berkurang drastis.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Apabila masyarakat aktif berpartisipasi dalam bank sampah dan komposting, beban operasional dan kapasitas Bantar Gebang akan jauh lebih ringan. Ini bukan hanya tentang mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya lingkungan bersih dan sehat bagi masa depan Jakarta.