Gejolak di Timur Tengah telah lama menjadi sorotan dunia, menyisakan luka mendalam dan ketidakpastian yang seolah tiada akhir. Berbagai upaya diplomatik dan intervensi politik kerap gagal membuahkan perdamaian yang berkelanjutan, menyisakan pertanyaan besar: apa sebenarnya akar masalah dan solusi yang fundamental untuk wilayah tersebut?
Di tengah kompleksitas tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan pandangan tegas dan lugas. Ia secara eksplisit menyoroti sebuah nilai esensial yang diyakininya mampu meredakan ketegangan dan menghentikan spiral kekerasan. Menurut Pramono, kunci perdamaian abadi di Timur Tengah terletak pada penguatan nilai ukhuwah Islamiyah.
Pramono Anung menekankan bahwa esensi persaudaraan sesama Muslim, jika terwujud secara nyata, memiliki kekuatan luar biasa untuk menangkis segala bentuk konflik. Ia menyatakan optimisme bahwa jika semangat persaudaraan ini benar-benar hidup dan mengakar di antara masyarakat dan pemimpin di kawasan itu, potensi peperangan atau pertikaian akan sangat minim, bahkan menghilang.
Baginya, ukhuwah bukan sekadar retorika, melainkan pondasi kokoh yang mendorong saling pengertian, toleransi, dan solidaritas. Melalui pengamalan nilai ini, ia percaya, perbedaan-perbedaan yang selama ini menjadi pemicu friksi dapat dijembatani. Setiap pihak akan memandang saudaranya dengan rasa hormat dan empati, bukan sebagai lawan atau ancaman. Dengan demikian, energi yang sebelumnya terkuras untuk konflik dapat dialihkan untuk pembangunan dan kemajuan bersama.
Visi Pramono Anung ini menyoroti bahwa solusi jangka panjang untuk Timur Tengah tidak hanya bergantung pada perjanjian politik atau kekuatan militer, melainkan pada pemulihan ikatan kemanusiaan dan keagamaan yang mendalam. Ia yakin, jika seluruh elemen masyarakat dan negara-negara di Timur Tengah benar-benar berkomitmen pada persaudaraan Islam, maka stabilitas dan perdamaian yang selama ini diimpikan bukan lagi sekadar angan-angan.