Klub raksasa London Utara, Arsenal, baru saja harus menelan pil pahit. Ambisi besar mereka untuk meraih quadruple, atau empat gelar juara sekaligus dalam satu musim, kini dipastikan telah pupus. Mimpi yang sempat membumbung tinggi tersebut kandas setelah tim Meriam London menelan kekalahan krusial di ajang final Carabao Cup.
Pertandingan final tersebut bukan hanya menjadi penentu sebuah trofi, melainkan juga penentu arah kampanye Arsenal musim ini. Dengan kekalahan yang tak terhindarkan, satu dari empat target utama mereka lenyap sudah. Namun, alih-alih meratapi kekalahan semata, pandangan para pengamat kini justru tertuju pada sebuah prediksi yang cukup mengejutkan mengenai nasib The Gunners di sisa musim.
Mengacu pada penampilan yang ditunjukkan oleh skuad asuhan Mikel Arteta dalam laga final Carabao Cup tersebut, analisis mendalam mulai banyak bermunculan. Terlepas dari upaya keras para pemain, performa di lapangan dinilai belum cukup untuk menggaransi dominasi di semua kompetisi. Dari sanalah muncul sebuah kesimpulan yang mencengangkan.
Berdasarkan evaluasi performa dalam pertandingan penentu itu, para ahli sepak bola memproyeksikan bahwa Arsenal ‘hanya’ akan menjuarai Premier League. Prediksi ini mungkin terdengar paradoks. Di satu sisi, menjuarai Liga Primer Inggris adalah pencapaian monumental yang diidamkan setiap klub. Namun, penggunaan kata ‘hanya’ di sini menyiratkan kontras tajam dengan ekspektasi awal untuk meraih seluruh empat gelar. Ini menunjukkan bahwa meskipun satu trofi besar masih dalam genggaman, kegagalan di kompetisi lain telah membentuk narasi yang berbeda.