Kathmandu Meletus: Skandal Korupsi Picu Perang Internet & Demonstrasi Liar

Demonstrasi besar-besaran di Kathmandu, Nepal, pada 9-10 September 2025, berujung ricuh. Serangan terhadap gedung parlemen menandai puncak kekerasan yang menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai puluhan lainnya. Kerusuhan ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap skandal korupsi dan kebijakan pemerintah yang memblokir akses ke media sosial.

Angkatan Darat Nepal melaporkan penangkapan 27 demonstran dan penyitaan uang tunai hasil penjarahan senilai NPR 3,37 juta (sekitar Rp393 juta). 24 polisi dan 3 warga sipil mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit militer. Tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api di berbagai lokasi. Aksi ini, yang disebut “Revolusi Gen Z,” diwarnai penjarahan, pembakaran, dan aksi anarkis lainnya di Kathmandu dan beberapa wilayah lain.

Baca Juga :  Babinsa dan Pemdes Bontomanai: Rahasia Lokasi Koperasi Merah Putih Terungkap!

Aksi demonstrasi ini merupakan puncak kekecewaan warga atas maraknya korupsi dan kebijakan pemerintah yang memblokir 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan X. Pemerintah beralasan pemblokiran bertujuan mencegah penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian.

“Pemerintah beralasan kebijakan ini dilakukan untuk mencegah berita palsu dan ujaran kebencian,” demikian tertulis dalam laporan The Himalayan Times. Namun, publik menilai pemblokiran sebagai upaya membungkam kritik terhadap pemerintah, terutama terkait skandal korupsi.

Baca Juga :  Horor di RSHS! Bayi Nyaris Tertukar, Direktur Akui Petugas Terdistraksi

“Pembangunan tidak berjalan karena para politisi ini menyimpan semua uang di saku mereka. Hal ini mempengaruhi masa depan kita,” ungkap Darshana Padal, warga Kathmandu, menggambarkan dampak korupsi terhadap pembangunan di negaranya.

Akibatnya, Perdana Menteri Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Paudel mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, Dovan Rai, aktivis masyarakat sipil, menilai pengunduran diri pejabat tidak cukup untuk meredakan kekecewaan publik.

“Masyarakat sudah bertahun-tahun frustrasi dengan korupsi, nepotisme, dan janji-janji palsu. Ini bukan sekadar soal pemimpin mundur, tapi perubahan sistem,” tegas Dovan Rai. Publik internasional pun menantikan langkah-langkah konkret pemerintah Nepal selanjutnya untuk mengatasi akar permasalahan ini.

Baca Juga :  RUU KUHAP: YLBHI Singkap Proses Tertutup, Rawan Penyalahgunaan Kekuasaan Negara

Kerusuhan meluas hingga menyebabkan kerusakan pada gedung parlemen dan hotel Hilton di Kathmandu. Ribuan generasi muda turun ke jalan menuntut perubahan politik, pemberantasan korupsi, dan pencabutan blokir media sosial. Aparat keamanan merespon dengan gas air mata, meriam air, dan bahkan peluru tajam, yang semakin memperkeruh situasi. Kekecewaan publik terhadap praktik korupsi dan pembangunan yang terhambat menjadi pemicu utama aksi protes ini.

Dapatkan Berita Terupdate dari MerahMaron di: