EPIC 2025 UNNES: Kesejahteraan Antar-Generasi, Fokus Utama Peradaban Global

Konferensi Internasional Pendidikan dan Psikologi (EPIC) 2025 yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini sukses digelar. Acara yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini mengangkat isu krusial tentang kesejahteraan lintas generasi di era digital.

Dengan tema “Transforming Wellbeing across Generations: Empowering Communities through Digital, Educational, and Psychological Perspectives,” EPIC 2025 berhasil mengumpulkan 141 peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Konferensi ini menekankan pentingnya kolaborasi antar disiplin ilmu untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam konteks kesejahteraan masyarakat.

Pentingnya Kesejahteraan Lintas Generasi di Era Digital

Sekretaris UNNES, Prof. Dr. Sugianto, M.Si., dalam sambutannya, menekankan perlunya inovasi dalam pendidikan dan psikologi untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat di era digital yang penuh tantangan. Perkembangan teknologi membawa dampak signifikan terhadap kehidupan, sehingga dibutuhkan strategi yang tepat untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Baca Juga :  KPK Periksa Billy Haryanto: Skandal Kereta Api Jatim, Ada Apa di Baliknya?

Ketua panitia EPIC 2025, Dr. Decky Avrilianda, M.Pd., menjelaskan bahwa penyelenggaraan konferensi secara hibrida bertujuan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Hal ini selaras dengan komitmen untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, serta poin 4 tentang pendidikan berkualitas.

Dekan FIPP UNNES, Prof. Edy Purwanto, M.Si., turut menyoroti urgensi peningkatan kesejahteraan pelajar, terutama mengingat peningkatan kasus bunuh diri di kalangan remaja. Beliau berharap EPIC 2025 dapat menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam mempromosikan wellbeing lintas usia.

Perspektif Inovatif dari Para Pakar

Konferensi ini menghadirkan empat narasumber utama yang memberikan perspektif inovatif mengenai kesejahteraan. Para pakar ini berasal dari berbagai universitas ternama di dunia, masing-masing menyajikan pemahaman dan solusi yang berbeda namun saling melengkapi.

Baca Juga :  Muktamar NU 2026: Gus Ipul Ungkap Alasan Penting Jadwal Juli-Agustus!

Neurosains Kepemimpinan untuk Kesejahteraan Generasi Muda

Assoc. Prof. dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D. dari Universiti Brunei Darussalam, memaparkan materi tentang “The Neuroscience of Leadership in Nurturing Generational Well-Being.” Beliau menjelaskan konsep neuroleadership, yaitu pendekatan kepemimpinan berbasis ilmu otak dan perilaku manusia. Penggunaan teknologi seperti EEG dan neurofeedback juga dibahas sebagai alat untuk memahami dinamika kepemimpinan dan kesejahteraan generasi muda.

Sistem 1 dan Intervensi Berbasis Nudge dalam Perubahan Perilaku Kesehatan

Dr. Felix Why, dosen senior dari Worcester University, membahas peran “Sistem 1” dalam perubahan perilaku kesehatan. Beliau menyarankan penerapan intervensi berbasis nudge, seperti pengaturan visual pilihan makanan sehat, sebagai strategi efektif di era digital. Beliau juga menyinggung fenomena “Flynn Effect” terbalik, yaitu penurunan rata-rata kecerdasan global akibat paparan digital yang berlebihan.

Baca Juga :  Sumsel: Kabupaten Terluasnya Setengah Jawa Barat, Bumi Nanas Menawan

Pentingnya Wellbeing Literacy

Prof. Lindsay Oades dari University of Melbourne memperkenalkan konsep “Wellbeing Literacy,” atau literasi kesejahteraan. Konsep ini menekankan pentingnya pemahaman dan penggunaan bahasa untuk meningkatkan kualitas hidup individu dan komunitas. Kemampuan ini diidentifikasi sebagai faktor penting dalam membangun kesejahteraan yang berkelanjutan.

Kesejahteraan Guru dan Kualitas Pendidikan

Prof. Dr. Awalya, M.Pd., Kons., Guru Besar FIPP UNNES, menekankan pentingnya kesejahteraan guru dalam menunjang kualitas pendidikan. Hasil penelitiannya di 48 SMA di Jawa Tengah menunjukkan bahwa kesejahteraan guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa melalui penguatan karakter. Beliau menekankan perlunya sistem pendukung dan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pendidik.

Kesimpulan

EPIC 2025 diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam merumuskan kebijakan dan strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara komprehensif. Dengan pendekatan lintas disiplin yang mengintegrasikan digitalisasi, pendidikan, dan psikologi, konferensi ini memberikan landasan kolaboratif untuk mengatasi tantangan kesejahteraan di era modern.

“Konferensi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta poin 4 tentang pendidikan berkualitas,” ujar Decky.

“Saya berharap EPIC 2025 bisa menjadi ruang berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam mempromosikan wellbeing lintas usia,” tegas Prof. Edy Purwanto.

Dapatkan Berita Terupdate dari MerahMaron di: