Toilet Masih Menjadi Masalah di UNG

Pembuatan saluran air saat Gedung Bersama Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo, baru dibangun. Foto oleh Defri Hamid (16-10-2015)

Merahmaron.com – Toilet adalah fasilitas yang dibutuhkan dalam setiap gedung atau tempat. Tak heran jika hampir di seluruh tempat pasti kita menemukan sebuah ruangan bertuliskan WC umum atau toilet. Sama halnya dengan Gedung Bersama (GB) Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Di gedung ini, banyak kita jumpai toilet pada tiap-tiap lantai di depan tangga penghubung antara lantai satu dan lantai lainnya. Setiap lantai terdapat dua toilet, yaitu di sayap kiri dan juga sayap kanan gedung.

Namun dari semua toilet yang ada di tiga lantai tersebut, hanya ada satu toilet yang dibuka untuk mahasiswa. Toilet ini terletak di sayap kanan dari pintu masuk GB.

Armin Yusuf (50), selaku petugas kebersihan GB, mengaku bahwa toilet di GB ini sudah hampir sebulan tidak mempunyai air. Armin tidak mengetahui apakah air pada toilet tersebut bocor atau tidak.

Keterangan lain datang dari Yusna (39), petugas kebersihan GB yang menangani khusus di lantai tiga,

“Di sini, toiletnya masih bisa digunakan, tapi saya tidak tahu kenapa mereka menguncinya. Toilet lantai dua juga masih dapat digunakan, airnya ada tapi dikunci,” katanya sambil menyapu halaman GB, Jumat (1/3).

Yusna juga menuturkan bahwa beberapa toilet memang memiliki air, tapi pipa dan keran airnya rusak. Sehingga, pihak fakultas menyuruhnya untuk mengunci toilet tersebut.

Berbeda dengan Armin, menurutnya ada sebuah toilet yang masih dapat digunakan, namun toilet tersebut dikhususkan oleh seorang dosen bernama Maisarah Sunge.

Maisara Sunge adalah seorang dosen Ilmu Hukum dan Kemasyarakatan (IHK). Menurut penuturan Armin dan Yusna, Maisara memegang sendiri kunci toilet tersebut dan kunci duplikatnya berada pada tangan Yusna.

“Toilet yang dikunci ini masih dapat digunakan. Tapi digunakan sendiri oleh Ibu Maisarah,” tutur Armin saat diwawancarai pada Kamis, (28/02).

Ketika ditanya secara langsung, Yusna mengaku memang memegang kunci toilet pribadi tersebut, “iya ada, itu punyanya Ibu Maisarah. Sudah sejak lama itu punyanya Ibu Maisarah. Sudah sejak tahun 2014. Mereka katakan itu khusus untuk Ibu Maisarah.”

Selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Fakultas Ilmu Sosial, Kusno Adiko, berpendapat toilet pribadi tersebut bukanlah sebuah masalah.

“Bagi saya itu bukanlah sebuah masalah. Memang bukan hanya Ibu Maisarah, tapi juga dosen [lainnya yang menggunakan toilet itu]. Biar tidak tercampur dan berbaur dengan mahasiswa. Jangan sampai dibuka lagi, lalu itu juga rusak lagi.”

Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi bernama Fajar, mengatakan toilet di GB FIS kotor dan bau. Fajar juga lebih memilih untuk lari ke Gedung Fakultas untuk membuang air.

“Toilet GB itu kotor dan bau,” ujarnya. “Ketika ingin buang air saya lebih memilih membuang air ke Fakultas,” lanjutnya saat diwawancarai pada suatu kegiatan.

Menurut penuturan Kusno, kekurangan fasilitas yang ada di FIS, diakibatkan oleh terbelahnya FIS dan melahirkan dua Fakultas baru, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Sehingga mau tidak mau fasilitas juga harus didistribusikan.

Kusno juga mengaku telah melakukan permohonan pengadaan barang sejak tahun 2016 hingga 2018, namun permohonan tersebut tidak diindahkan oleh pihak Universitas. Sehingga permohonan tersebut tidak terealisasikan.

“Tahun-tahun kemarin tidak ada perbaikan, cuma pengecatan saja di area Fakultas. Sebenarnya harus sesuai dengan permintaan yang diajukan. Seperti proyektor, pemeliharaan dan perbaikan toilet dan WC. Kemarin saluran air sudah [diperbaiki].”

Ketika diberikan informasi mengenai saluran air yang kembali rusak, Kusno menyawab dengan helaan nafas panjang, “saya sudah tidak tahu mau bagaimana lagi. 1,1 miliar diberikan oleh Rektorat, namun hanya nota kosong,” sambung Kusno, menjelaskan soal belum cairnya anggaran perbaikan saluran air. Kamis, (28/02).

Semua pendanaan dilakukan dengan sistem sentralisasi atau terpusat langsung kepada pihak universitas. Masing-masing fakultas tidak diberikan wewenang secara otonom untuk mengelolah langsung uang yang diberikan pihak universitas. Diperparah lagi dengan sistem prioritas yang mengakibatkan keterlambatan dalam hal pendanaan.

“Kalau bisa sistem keuangan kita, diberikan langsung ke masing-masing fakultas. Jadi, setiap akuntansi dikelola secara otonom. Tidak lagi mengajukan ke universitas. Fakultas harusnya diberikan kewenangan untuk memperbaiki, mengecat. Jadi diberi kewenangan sepenuhnya, bukan hanya menulis [memberikan] nota kosong,” tuturnya menjelaskan. (Ummul Uffia Turrahmah)

Satu tanggapan untuk “Toilet Masih Menjadi Masalah di UNG

  • Maret 11, 2019 pada 11:49 am
    Permalink

    Sebenarnya, setiap mahasiswa FIS juga perlu menigkatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan toilet. Karena toilet itu adalah milik bersama. Seharusnya sebagai salah satu aset bersama, tentu harus juga di jaga secara bersama-sama.
    Saya sendiri sebagai salah satu mahasiswa UNG merasa puas dengan kebersihan toilet di gedung fakultas kami. Padahal, toilet digunakan oleh dosen dan mahasiswa secara bersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.