Sebenarnya WiFi Kampus Milik Siapa?

p_20160324_102804
Sebuah ‘papan pengumuman’ Wifi Zona Fakultas Sastra dan Budaya (Dok. Memar)

MeMar-UNG. Sedikitnya ada 21 jumlah WiFi yang terkunci menggunakan pengaman WEP, WPA dan WPA-PSK di sudut-sudut kampus UNG. Dengan kata lain siapa saja yang mau menggunakannya, harus menggunakan kata sandi yang hanya diketahui oleh orang tertentu, dalam hal ini pegawai atau dosen. WiFi ini tersebar terbatas di masing-masing Fakultas dan Kantor.

Berbeda dengan WiFi yang masuk melalui portal, mahasiswa bisa langsung masuk menggunakan nama pengguna dan kata sandi yang sama dengan akun Sistem Informasi Akademik Terpadu (SIAT) miliknya. Namun WiFi jenis ini masih bermasalah hingga berita ini ditulis. Menurut Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PUSTIKOM) hal ini diakibatkan oleh beberapa alat yang rusak akibat pemadaman listrik.

(baca juga:Ada Apa dengan WiFi Kampus?)

Mahasiswa pun mengeluh dengan banyaknya WiFI yang terkunci. Seperti komentar Wahyu (7/4), mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), “ini kan sarana dan prasarana yang berasal dari torang punya UKT dan torang punya uang pembangunan. Tentunya ini adalah torang punya hak. Kalau dikunci-kunci seperti ini kan, tentunya hak-hak li torang ini dibatasi”.

Dia lalu mempertanyakan alasan kenapa banyak WiFi dikunci dan dikhususkan untuk pegawai dan dosen.

“Kalau misalnya dikunci, alasan dikunci itu apa? Karena kan, ini akses WiFi ini dibutuhkan oleh semua mahasiswa di tempat manapun. Sedangkan untuk dosen-dosen dorang sudah ada kabel LAN mungkin. Sudah pakai kabel LAN di ruangannya masing-masing, sementara pa torang kan, torang akses sendiri, baru dikunci lagi. Tentunya hal-hal seperti itu torang pertanyakan kembali lagi.” Kritik Wahyu.

Sementara Direktur PUSTIKOM, Sukarman Kamuli (5/4), membenarkan adanya WiFi khusus pegawai, dia mengklaim bahwa itu adalah hak pegawai untuk melokalisir akses internet yang mereka butuhkan. Dia lalu memberi contoh salah satu WiFi yang bernama Kepegawaian milik Kantor Kepegawaian UNG.

“Itu kan dikasih nama Kepegawaian, itu menurut permintaan mereka. Jadi Kepegawaian itu, hanya orang di Kepegawaian yang boleh pakai. Dan itu mereka minta sendiri. Dan itu juga hak mereka, karena mereka melokalisir. Untuk mahasiswa disediakan, cuma memang persoalannya terbatas” aku Sukarman.

Menurutnya juga, pihaknya sebenarnya punya rencana untuk membereskan masalah ini. Dia akan mengadakan alat yang satu WiFi bisa digunakan oleh 250 hingga 400 pengguna, sehingga semua bisa mengakses dengan mudah. Namun solusi ini terhalang pada biaya yang cukup mahal.

“Kami ini sebenarnya mau pasang yang sampai 250 user (pengguna) itu, tapi de pe mahal minta ampun. Sedangkan yang 400 user itu 172 juta, nah anggaran kita berapa?” katanya berharap.

(DF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.