Satpam Kembali Beraksi

image
Satpam menunjukkan surat perintah kepada orang yang akan masuk kampus. (Dok. MeMar)

MeMar-UNG. Gerbang samping kampus satu UNG saat ini punya sistem kemanan berlapis, selain pagar besi ada juga portal buka-tutup yang menjadi penghalang. Sabtu malam (29/4), pukul 22.00 Wita gerbang ini dijaga oleh 4 petugas Satpam, ada yang menjaga portal, ditambah 2 orang pengawal dan satunya memegang secarik surat.

4 orang Satpam ini sedang melakukan sweeping pada sejumlah kendaraan yang keluar masuk kampus. Sasarannya adalah mahasiswa yang tidak mempunyai izin beraktivitas di kampus lewat dari jam 10 malam. Yang tidak berizin tidak akan diizinkan masuk.

Hal ini dilakukan karena menanggapi surat perintah dari Wakil Rektor 3 yang melarang aktivitas di dalam kampus lewat dari jam 10 malam.

Beberapa mahasiswa yang tidak bisa menunjukkan izin terpaksa balik arah. Mahasiswa seringkali ingin memaksa masuk dengan berbagai alasan. Seperti seorang yang mengaku mahasiswa FIP yang beralasan belajar malam, dengan tegas Satpam menyuruhnya balik arah.

Juga seperti seorang pria yang mengaku sebagai ponakan dari Rusli Male, Koordinator Satpam UNG. Dia bersama temannya tidak diizinkan masuk dan tidak terima saat kru Memar mengambil foto. “Bos jangan begitu, ana ini ponakan li pak Rusli”, katanya.

Tak pelak, aksi sweeping ini membuat ketegangan di antara mahasiswa dan Satpam. Beberapa mahasiswa FIS yang ingin masuk dengan alasan persiapan pada kegiatan Piala Cristal SENMA-FIS 2016, tidak diizinkan masuk.

Perdebatan sempat terjadi, namun oleh Satpam mereka diizinkan masuk dengan syarat meninggalkan motor di pos Satpam.

image
Portal belum dibuka sebelum diizinkan. (Dok. MeMar)

Aksi sweeping ini nampaknya tidak berjalan sempurna, terutama saat seorang pengendara mobil yang ditanyai ada keperluan apa dan sambil lalu pengendara itu justru menjawab, “kiapa ngoni mo tanya-tanya?”.

Beberapa pengendara motorpun memanfaatkan kelengahan petugas lalu merembet masuk ke dalam kampus.
Bersama petugas yang melakukan patroli, Satpam yang menjaga gerbang ini saling koordinasi untuk menindaklanjuti alasan mereka yang memaksa masuk. Seperti tempat-temapt tertentu ini: Auditorium, PUSTIKOM, Civica, PKM, FATEK, Sendratasik dan Kos Cerdas.

Sejumlah tempat ini, ada yang memiliki izin beraktivitas langsung dari pihak rektorat, seperti FATEK. Dan ada yang punya dosen penanggung jawab seperti di Auditorium dan Sendratasik. Adapun Pustikom dan Civica dikecualikan karena telah diketahui punya aktivitas malam. Sedangkan penghuni Kos Cerdas terpaksa diizinkan karena satu-satunya akses jalan harus lewat dalam kampus.

Sementara itu PKM tempat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), sebagai pusat kegiatan mahasiswa juga menjadi sasaran Satpam, Sekretariat BEM dan UKM Mapala Motolomoia didatangi sambil diberikan surat perintah Wakil Rektor 3 tersebut.

image
Surat Perintah kepada Satpam untuk merazia dan patroli terhadap mahasiswa yang melakukan aktivitas lewat dari jam 10. (Dok. MeMar)

Surat yang ditandatangani Wakil Rektor 3 itu, berperihal perintah kepada Satpam UNG untuk melakukan patroli dan razia terhadap mahasiswa yang melakukan aktivitas malam hari melebihi batas yang telah ditentukan atau yang menginap di dalam kampus.

Dari pihak Satpam sendiri, guna melaksanakan perintah itu melakukannya dengan prosedur yang ada. Jam 10 malam, Satpam mulai berpatroli bersamaan dengan penjagaan gerbang samping kampus. Dilanjutkan saat jam 1 dan jam 2 pagi untuk kembali menyisir semua tempat di dalam kampus.

Namun begitu, dalam kegiatan itu, Satpam hanya melakukan tindakan berupa teguran atau himbauan selebihnya hanya berharap kerjasama dari mahasiswa.

“Kami akan tegur terus, apabila mereka protes, ya kami bilang silakan protes bagian yang mengasih ini surat. Kami dari pihak keamanan hanya butuh pengertian dari mahasiswa. Tindakan paksa untuk mengeluarkan mahasiswa, kami tidak akan lakukan, kami sesuai prosedur” ungkap Muhammad Rakimin, Komandan Peleton Regu 3, juga sebagai petugas yang bertanggung jawab malam itu.

Dari mahasiswa, terutama Senat Mahasiswa FIS yang sempat tidak diizinkan masuk walau dengan alasan punya kegiatan, juga BEM dan UKM Mapala Motolomoia yang didatangi oleh Satpam, punya pendapat lain.
Wardoyo Dingkol, Ketua Senat Mahasiswa FIS, mengaku belum tahu perihal surat perintah tersebut. Menurutnya surat tersebut juga harus diberikan di setiap Ormawa, “ini seharusnya sampai di pihak Ormawa, terlebih lagi di tiap-tiap fakultas, supaya mereka juga tahu. Ini saya dengar, surat edaran ini ada dari kemarin (28/4), tapi sampai saat ini itu belum ada (diterima). Sedangkan di mahasiswa FIS itu ada kegiatan,” katanya.

Dia kurang setuju dengan aturan pelarangan aktivitas malam mahasiswa. Menurutnya, aturan seperti itu harus dikhususkan lagi “untuk penertiban, saya rasa ini cocok untuk mahasiswa yang tidak ada kegiatan di kampus, yang hanya datang nongkrong, segala macam.”

Dia juga berpendapat organisasi mahasiswa yang membuat berbagai kegiatan seharusnya diberikan pengecualian “mahasiswa beraktivitas di kampus itu juga tuntutan dari pihak fakultas, bahwa ormawa itu harus buat kegiatan kreatif segala macam, kami juga buat kegiatan, itu tidak serta merta hanya pada siang hari, malam juga kami butuh kerja dan tempat kami bekerja yah di sekretariat ormawa. Kalau dikekang begini, menurut saya kurang bagus,” jelasnya.

Nur Rismiani, Selaku Sekretaris BEM UNG, dia setuju dengan aturan seperti itu jika tujuannya untuk menjaga keamanan, tapi dia juga sepaham dengan Wardoyo soal aturan yang harus disesuaikan dengan aktivitas organisasi mahasiswa “jam kerja kita di BEM itu lebih efektif di malam hari dibanding siang hari,” akunya.

Mahasiswi ini juga menawarkan solusi, “kedepannya mungkin PKM bisa dijadikan pusat kegiatan mahasiswa sampai malam hari, tinggal pihak keamanan saja yang disiagakan,” jelas Nur.

UKM Mapala Motolomoia yang selalu stay di sekretariat mereka tak terkecuali pada malam hari, sering kali didatangi Satpam, juga mempunyai keluhan sendiri.

Sadam Nurdin, selaku Ketua Umum organisasi Pecinta Alam tersebut, menuturkan “sebenarnya bukan kita tidak ingin mematuhi peraturan, kami akan keluar tepat waktu, kecuali memang tidak ada aktivitas mahasiswa lainnya yang berada di dalam kampus ini. Semua harus disamaratakan. Kalau misalnya kami Mapala diusir, terus kami menemukan mahasiswa yang berada di lingkungan kampus, maka kami akan melakukan tindakan,” tegasnya. DF/AK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.