Mahasiswa adalah individu yang memiliki gagasan, kapasitas berpikir kritis, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Secara historis, mahasiswa kerap berperan sebagai agen perubahan dan pengontrol kebijakan pemerintah. Gelar “mahasiswa” bukan sekadar status akademik, melainkan juga cerminan dari tanggung jawab intelektual yang melekat pada diri individu yang menyandangnya.
Namun, seiring perkembangan zaman, nilai dan peran mahasiswa di tengah masyarakat mulai mengalami pergeseran. Banyak mahasiswa yang kehilangan fungsi sosialnya, bahkan tidak lagi memberikan dampak berarti bagi lingkungan sekitar. Entah karena ketidaktahuan akan makna peran mereka atau karena sikap apatis yang disengaja, mahasiswa kini kerap terjebak dalam zona nyaman akademik tanpa turut serta dalam dinamika sosial.
Tentu, bersikap pasif atau tidak berkontribusi adalah hak setiap individu. Namun, perlu diingat bahwa gelar mahasiswa bukan sekadar identitas, melainkan juga amanah yang membawa tanggung jawab. Mahasiswa bukan hanya dituntut untuk unggul dalam studi, tetapi juga memiliki kesadaran dalam menyikapi isu-isu sosial, ekonomi, budaya, dan politik.
Tulisan ini ditujukan kepada rekan-rekan mahasiswa yang ingin memahami atau memperdalam makna jati diri sebagai insan akademis. Mahasiswa adalah individu dengan wawasan yang luas, yang sering kali dianggap mampu memahami berbagai aspek kehidupan, meskipun di luar bidang keahliannya. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri di luar disiplin ilmunya agar tidak terjebak dalam stigma “tahu segalanya” tanpa pemahaman yang mendalam.
Dalam banyak literatur, mahasiswa disebut sebagai “kaum intelektual.” Istilah ini berasal dari bahasa Yunani intelligere, yang berarti memahami. Maka, mahasiswa sejatinya harus memiliki kemampuan membaca situasi, menganalisis kondisi sosial, serta merumuskan solusi yang konkret bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kemampuan berpikir kritis dan reflektif inilah yang membedakan mahasiswa dari kelompok masyarakat lainnya.
Mari kita sejenak merenungi perjuangan para pendahulu kita, mereka yang telah mengorbankan waktu dan pikirannya demi kemajuan bangsa. Menjadi mahasiswa bukan sekadar memasuki dunia akademik, tetapi juga dunia pemikiran—sebuah ruang yang menuntut kita untuk mengkaji berbagai hal, termasuk aspek sosial, politik, bahkan filsafat ketuhanan, bukan untuk berdebat tanpa arah, melainkan untuk melatih daya nalar dan memperkaya sudut pandang.
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan status mahasiswa ini dengan sebaik-baiknya. Waktu dan kesempatan yang kita miliki saat ini tidak akan terulang. Jadilah mahasiswa yang benar-benar memahami makna dan perannya, bukan sekadar menjalani rutinitas akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
*Oleh: Sahril Anwar Tialo*
“Tak elok dipendam, maka saya menulis.”