Pengarahan Suara Mewarnai Pemilihan BEM UNG 2019

Proses pembubuhan tinta pada jari pemilih yang telah melakukan pencoblosan, sebagai tanda telah memilih. Lokasi TPS Fakultas Ilmu Sosial. Foto oleh Defri Sofyan (11-3-2019).

Merahmaron.com – Senin, (11/3) Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo telah dilaksanakan. Meski begitu, banyak mahasiswa yang mengeluh dengan proses pemilihan ini. Hak suara menjadi salah satu masalah yang besar, sebagian mahasiswa mengaku bahwa hak suara mereka telah dimanipulasi. Mereka tidak sepenuhnya bebas dalam menentukan pilihan mereka sendiri.

Dalam berita ini kami menyamarkan identitas narasumber yang kami wawancarai, dengan alasan narasumber takut dengan ancaman senior-senior mereka di jurusan dan fakultas mereka. Ancaman ini berupa perlakuan diskriminatif yang akan mereka terima nanti setelah pemilihan selesai, mereka akan diasingkan karena tidak mau mengikuti pilihan yang telah ditentukan. Bahkan bukan hanya itu, kekerasan fisik pun juga menjadi ancaman terhadap mereka.

Bunga (nama samaran) adalah salah satu mahasiswa Fakultas Perikanan yang merasa dibatasi hak suaranya. Dia mengatakan sebelum hari pemilihan berlangsung, mendapat sebuah pemberitahuan lewat grup Whatsapp, bahwa mereka harus memilih nomor urut dua. Hal ini membuatnya heran.

“Kenapa harus disebar di grup? Pasti ada maksudnya kan? Saya merasa tertekan, tidak bebas. Kenapa kita harus dipaksa memilih nomor urut dua itu? Okelah kalau ada yang bilang tidak dipaksa, tapi ujung-ujungnya, terancam tidak ditegur seniorlah, tidak dibantulah. Ini hak mahasiswa, ini suara kami, kenapa harus dipaksa memilih nomor yang ditentukan senior? Ini hak kami, kenapa dirampas?” ujar Bunga saat diwawancarai.

Bunga menjelaskan saat di lokasi pemilihan, dia ditanyai oleh senior, apakah sudah memilih atau belum, dia pun menjawab belum. Dia lalu dipaksa memilih saat itu juga, walaupun dia mengaku tidak membawa Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai syarat memilih. Padahal yang sebenarnya dia membawa KTM.

“Saya ditanya senior sudah memilih atau belum? Saya mengaku belum, terus ditanya bawa KTM? saya bilang tidak. Terus saya langsung disuruh senior memilih [pasangan nomor urut dua] saat itu juga,” kata Bunga.

Kejadian yang sama terjadi di Fakultas Hukum, Mawar (nama samaran) mengatakan, “jadi sebelum pemilihan kami dikumpulkan, sekitar jam tujuh [pagi]. Padahal mau mencoblos itu sekitar jam 10. Ternyata kami disuruh datang jam tujuh itu, buat diberi tahu mesti pilih nomor urut berapa. Jadi saya menuruti kata senior, disuruh pilih nomor satu.”

Mawar juga menjelaskan bahwa lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) telah dijaga oleh senior yang memperhatikan apa yang akan mereka pilih. Menurut Mawar ini telah melanggar hak mereka dalam pemilihan, yang seharusnya dilakukan secara demokratif.

Fakultas Ilmu Sosial juga terjadi masalah serupa. Sri (nama samaran), menuturkan apa yang terjadi sebelum pemilihan berlangsung. Mereka diinstruksikan untuk memilih nomor urut dua dalam pemilihan nanti. Untuk berjaga-jaga, mereka disuruh mengumpul KTM jauh-jauh hari sebelum pemilihan berlangsung, ini dilakukan agar mereka hadir dalam pemilihan. Namun sampai saat ini KTM mereka belum dikembalikan.

Sri mengatakan di lokasi TPS Fakultas Ilmu Sosial ada banyak senior yang memperhatikan jalannya pemilihan. Sebelum mereka memilih, mereka dikumpulkan terlebih dahulu dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh senior mereka, arahan yang diberikan berupa mereka disuruh untuk memilih nomor urut dua.

“Saat kita mau masuk lokasi TPS kita dikumpul dan ditanya ‘sudah tau siapa yang harus dipilih?’ Seingat saya sebelumnya telah diberitahukan di grup Whatsapp, bahwa kita harus pilih nomor urut dua,” tuturnya. (Hudalil Mustakim)

8 tanggapan untuk “Pengarahan Suara Mewarnai Pemilihan BEM UNG 2019

  • Maret 17, 2019 pada 1:30 pm
    Permalink

    Kritiss, Keren Kaka

  • Maret 17, 2019 pada 1:40 pm
    Permalink

    Good news

  • Maret 17, 2019 pada 2:21 pm
    Permalink

    Apa apaan hanya nomor 2 yg d jauhkan. Harusnya smua pihak di wawancara bukan cma sepihak.

  • Maret 17, 2019 pada 2:22 pm
    Permalink

    Jngan hanya nmor 2 yg d jatuhkan, harusnya smua pihak d wwancarai termasuk birokrasi

  • Maret 17, 2019 pada 2:22 pm
    Permalink

    👍👍👍👍

  • Maret 18, 2019 pada 2:19 am
    Permalink

    Ayo usut tuntas, jngn cuma pihak sebelah, usut semua

  • Maret 20, 2019 pada 10:42 am
    Permalink

    Ironis…mahasiswa yang digadang gadang sebagai generasi penerus bangsa bukannya bercita cita menjadikan bangsa lebih baik malah meneruskan tindakan keji yang sangat marak dilakukan oleh pendahulu pendahulunya…

  • Maret 20, 2019 pada 10:43 am
    Permalink

    Ironis…mahasiswa yang digadang gadang sebagai generasi penerus bangsa bukannya bercita cita menjadikan bangsa lebih baik malah meneruskan tindakan keji yang sangat marak dilakukan oleh pendahulu pendahulunya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.