Pemotongan Beasiswa PPA Masih Menimbulkan Tanya

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) memberikan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) kepada para mahasiswa yang memiliki prestasi tinggi, baik kurikuler maupun ekstrakurikuler.

Tujuan program ini untuk mencetak banyak lulusan berkualitas di bidangnya masing-masing. Dan bisa membantu mahasiswa berprestasi, terutama yang tidak mampu secara ekonomi.

Meski demikian, beberapa hal masih dikeluhkan oleh mahasiswa penerima beasiswa PPA. Di antaranya, sering terlambatnya pencairan dana, dan adanya potongan dari pihak kampus.

“Transparansi pengelolaan beasiswa di Universitas Negeri Gorontalo itu belum ada, karena sampai hari ini mahasiswa masih banyak bertanya terkait beasiswa,” kata Ketua HMJ IHK, Masrul Sainong. (18/2)

Masrul menyangsikan, bahwa ada kerancuan dalam pengelolaan beasiswa PPA. Sesuai pengalaman dari tahun ke tahun penerimaan itu dilakukan dalam dua jangka: gelombang pertama itu dalam waktu enam bulan dengan nominal yang diterima 2.400.000. Begitu juga dengan gelombang ke dua yang masih tetap sama dengan gelombang pertama.

Namun saat ini, sistem pengelolaan beasiswa sudah berbeda dengan tahun-tahun kemarin, pihak kampus melalui Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan (BAKP) mengatakan, bahwa sudah ada perubahan proses pencairan beasiswa tersebut, yakni dibagi menjadi dua gelombang.

Gelombang pertama yang berjangka enam bulan kami menerima penuh, yaitu 2.400.000. Namun yang jadi pertanyaan sekarang adalah gelombang ke dua yang berjangka tiga bulan, kita hanya menerima 1.200.000.

Hal itu kemudian ditanyakan oleh Masrul dan kawan-kawan ke BAKP, apa alasan sehingga ada pemotongan dari pihak kementerian?

“Katanya Universitas Negeri Gorontalo masih dalam proses membayar hutang,” kata Masrul meniru. Tapi masalah membayar hutang itu mereka tidak mendapat penjelasan secara detail. Sehingga mereka masih bertanya, apakah benar UNG memiliki hutang?

Saat masalah ini dikonfirmasi ke pihak BAKP, justru ada perbedaan pendapat. Pihak BAKP mengatakan bahwa mahasiswa salah menafsirkan penjelasan dari mereka.

“Mereka hanya salah menafsirkan penjelasan saya kemarin. Pak mengapa hanya 9 bulan? Itu kebijakan Negara, karena adanya pemangkasan anggaran, mungkin masih penghematan anggaran yang masih digunakan untuk pembangunan lain. Sehingga ada pemangkasan anggaran dari satuan kementrian, termasuk Ristekdikti. Imbasnya itu salah satunya PPA bukan hanya PPA saja tapi semua item, sehingga beasiswa PPA hanya 9 bulan. Semeter pertama 6 bulan dan semester ke dua hanya 3 bulan,” ujar Udin Hamzah, Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan (22/2). (Tr-Mais)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.