Narasi Kaum Musa di Minahasa

Yahudi Sulut 1
Pintu masuk Synagogue (rumah ibadah Yahudi) di Minahasa. Foto by: Tantowi Anwari (SEJUK)

Menuju ‘Keberagaman’

Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan menanjak. Dari atas jalan ini kami bisa melihat Kota Manado yang memantulkan kilapan cahaya mentari dari tumpukan atap sengnya. Mobil semakin melaju, suasana kian gelap ditutupi pepohonan, udara menjadi sejuk dan berbau khas daerah tropis.

“Jalannya seperti jalan di kampung saya,” celetuk Isa, perwakilan pers mahasiswa dari Pontianak, ujung barat pulau Borneo.

Rupanya setiap dari kami, merasakan sensasi tersendiri saat melalui jalan ini. Semacam ada kekuatan spiritual yang memaksa kami terkagum-kagum dengan semua partikel dari jalanan Minahasa ini. Lumut, udara, uap air, gemerisik serangga, kabut, dan semua unsur yang menegaskan bahwa alam di sini masih terjaga.

Minahasa bukanlah daerah pedalaman yang tidak mau mengikuti perkembangan modern, seperti masyarakat adat Badui Dalam di Banten. Mobil mewah sesekali melaju dari depan kami, gereja beralaskan keramik juga menghiasi kiri kanan jalan, bahkan ada baliho dari Wali Kota Tomohon (bekas salah satu kecamatan yang sekarang menjadi kota otonom) bertuliskan “mari wujudkan Tomohon sebagai Kota Pendidikan”, memberi pesan bahwa kota ini juga punya mobil, bangunan mewah dan politik seperti kota pada umumnya. Tapi sekaligus memberitahu pada pengunjung bahwa masyarakat Minahasa terbiasa hidup dengan nyamuk, lumpur, dan dinginnya hutan tropis.

Dengan suasana seperti ini, tentu membuat kami tidak bisa menahan kantuk di dalam mobil. Ika, perempuan urban perwakilan pers mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Jakarta, justru sudah terlelap lebih dulu setelah dia merekam jalanan Kabupaten Minahasa dengan Handy Cam miliknya. Kecuali Hamdani, lelaki hitam dari Ternate, perwakilan pers mahasiswa Universitas Khairun, yang selalu memancing pembicaraan dengan tema-tema budaya dan pertanyaan filsafat miliknya. Saya sendiri lebih memilih menghirup dalam-dalam angin bercampur uap air dari sela-sela jendela mobil, sembari melirik Ayu (perwakilan pers mahasiswa, Padang) dan Ika di jok depan saya.

Sesekali mobil kami berhenti mengikuti rombongan di depan kami. Saya pun melirik ke luar jendela, terlihat mas Towik (fasilitator dari SEJUK) kesana-kemari sambil menempelkan telepon genggam miliknya ke telinganya, mungkin lagi tanya jalan, duga saya. Beberapa menit rombongan jalan lagi, sekitar tiga kali kejadian ini berulang. Dengan kejadian seperti itu, ditambah jalanan sempit yang naik-turun, membuat perjalanan kami menyita hampir 3 jam pejalanan dari Kota Manado ke Kota Tondano, Ibukota Kabupaten Minahasa.

Perjalanan ini melibatkan 25 orang peserta kalangan pers mahasiswa dari berbagai daerah, Tenate, Tulungagung, Jakarta, Yogyakarta, Padang, Malang, Gorontalo, Makassar dan Manado. Serta panitia dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF). Ini adalah agenda hari ke-2 kami setelah dibekali dengan materi-materi tentang meliput isu keberagaman. Semuanya nampak sudah di-setting dengan kata “kebearagaman”, mulai dari peserta yang beragam daerah, jenis kelamin, gender dan agamanya. Tempat pelaksanaan (Kota Manado) yang terkenal dengan toleransi agamanya yang tinggi, juga tempat liputan kami di Minahasa ini yang ternyata adalah meliput komunitas Yahudi.

Jpeg
Saat rombongan tiba di Synagogue. Dok. Memar

Saat rombongan kami benar-benar sampai di tujuan, ternyata kami tetap tidak bisa menutupi kekagetan kami. Saya pun terbangun dari tidur dan sontak langsung kaget dengan apa yang saya lihat di samping tempat mobil kami parkir.

“Aan ana tako sup, haram tako ana,” (Aan, saya takut) kata saya ke Aan, teman saya dari perwakilan  Gorontalo.

“Ana olo sup, tako ana mo kaluar,” (Saya juga, takut keluar dari mobil) jawabnya. Saya kemudian menghela napas dalam-dalam, berusaha untuk turun dari mobil dan masuk ke tempat itu.

Apa yang saya lihat adalah pengalaman pertama hampir dari seluruh rombongan yang datang. Walau sebelumnya kami sudah tahu kami akan pergi ke Sinagoga, tempat ibadah orang Yahudi, tapi kita tidak bisa menyembunyikan keterkejutan kita saat melihat segerombolan orang berpakaian hitam-putih, songkok yang tidak menutup seluruh kepala, rumbai-rumbai yang menjulur dari pinggang ke lutut, dengan wajah khas Minahasa.

Sebuah suku yang orangnya memiliki ciri fisik bermata cipit dan berkulit putih, mirip suku Dayak di Borneo. Dalam sejarah asal-muasal orang Minahasa mempunyai banyak versi, ada yang mengatakan Minahasa berasal dari ras mongolscheplooi, yakni pertalian keturunan dari Jepang dan Mongolia, yang persamaannya ada pada agama Shamanisme yang dipegang antara suku Mongol dan Minahasa, juga oleh suku Dayak dan Korea. Ada juga yang bilang mereka berasal dari Formosa Taiwan, karena kemiripan bahasa.

Minahasa sendiri sebelumnya disebut Maesa yang berarti “membuat satu”. Nama ini didapatkan karena bersatunya semua sub-suku melawan serangan dari luar, melawan penjajah maupun kerajaan Bolaang Mongondow yang diceritakan pernah saling memperebutkan wilayah dengan mereka. Pada masa sekarang Minahasa terbagi dalam 3 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Minahasa Utara yang berbatasan dengan Bitung, Minahasa Selatan yang berbatasan dengan Bolaang Mongondow serta Minahasa yang berada di pinggiran Kota Manado. Namun begitu orang Minahasa tersebar di seluruh Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Orang-orang itu nampak berbaris dengan rapi, seakan sudah menyambut kedatangan kami. Barisan itu bersaf dari pagar hingga ke pintu masuk Sinagoga. Saya berusaha memerhatikan detail dari pemandangan ini. Pagarnya terbuat dari besi yang sudah berkarat, dihiasi dengan bintang yahudi. Sinagoga itu bentuknya unik, campuran segitiga dan kotak, serta tingginya hanya sekitar 2 meter. Hampir sama dengan rumah Hobbit di film The Lord of the Rings. Halamannya tak begitu luas, tapi cukup untuk memarkir 3 buah mobil mini bus.

Pria bertopi

Sekitar beberapa detik mereka hanya diam, dan melirik kami. “Silahkan masuk,” kata seorang di antara mereka.

Suasana ketegangan masih terasa, saya pun belum berani masuk, dan untuk mengurangi ketegangan saya mengambil inisiatif untuk mengambil gambar dengan telepon genggam saya. Rupanya banyak juga dari rombongan yang belum berani masuk, mereka hanya melakukan seperti yang saya lakukan.

Sampai kemudian seorang dengan topi koboi hitam dan kacamata bulat berseru kepada kami,“Maso dulu, nanti sabantar ba selfie-selfie,” katanya dengan logat Minahasa yang kental.

Dengan begitu membuat kami tersadar, wah ternyata mereka juga hanya seperti orang-orang Minahasa lainnya. Kesan canggung larut dengan suara cengengesan dari kami.

Kami pun masuk sambil menjabat tangan mereka satu persatu, seutas senyum mereka saat bersalaman, membuat saya lebih merekatkan tangan saya dan membalas senyum mereka dengan tatapan yang membawa pesan, “tenang sobat, kami sudah dibekali dengan materi meliput keberagaman, jadi kami bisa mengerti”.

Kami pun masuk ke dalam Sinagoga, bau parfum dari mereka, ditambah tulisan-tulisan Ibrani di dinding membuat kami seperti masuk ke dunia lain. Rupanya dengan spontan kami langsung main jepret seluruh sudut ruangan.

Yahudi Sulut 6
Robbi Yakoov Baruch (33) bertopi dan Rabbi Yobbi Ensel (42) sedang menjelaskan Gulungan Torah yang ada di depan mereka. Foto by: Tantowi Anwari (SEJUK)

Pria bertopi dan berkacamata bulat bersama pria dengan jubah hitam panjang megambil tempat di tempat yang mirip mimbar masjid, mereka meminta kami tenang dan duduk di kursi panjang yang sudah disediakan. Ruangan itu kecil, sehingga membuat kami kesusahan untuk duduk, memakan waktu beberapa menit sehingga kami bisa duduk dengan tenang meskipun saling berhimpitan. Posisi kami membentuk lingkaran, mengelilingi mimbar tempat dua orang pria itu berdiri. Sekarang kami lebih dekat untuk bisa memperhatikan kedua pria itu.

Mereka tampak mencolok dibanding siapapun yang ada di situ. Pria yang satu memakai topi koboi hitam dan berkacamata bulat, keliatan sangat rapi dengan setelannya, kameja putih bersih, jas hitam polos, celana hitam halus, dan sepatu keras mengkilap, serta benda mirip tali bertekstur kasar yang menjuntai dari pinggang ke bawah lutut. Pria yang disampingnya menggunakan jas hitam yang panjangnya sampai di bawah lutut, kopiah kecil yang hanya menutup bagian tengah kepala. Tempat mereka berdiri dan pakaian yang mereka pakai, menegaskan identitas keduanya sebagai orang penting di komunitas Yahudi itu.

Agama tanpa dakwah

Suasana masih riuh saat kedua pria itu berdiri di mimbar. Sampai Pria dengan topi koboi itu memulai pengantarnya dengan suara lantang, “Shalom, Salam Sejahtera, Assalamualaikum”.

Semua pun diam dan sontak menjawabnya dengan jawaban sesuai dengan agama masing-masing.

Dia lalu memperkenalkan diri, “Nama saya Yakoov Baruch (33) dan kami berdua adalah Rabbi di sini,” suaranya agak berat dan aksennya sama persis seperti milik Ahok, Gubernur Jakarta.

Dia lalu bercerita tentang Yahudi. Dia memulainya dengan ‘bagaimana orang-orang Yahudi hidup’.

“Bagaimana Kita membasuh tangan, cara kita berdoa 3 kali sehari, kita mempelajarinya terus-menerus sampai detail. Jadi tidak ada kata selesai untuk belajar,” dia menggambarkan jika orang Yahudi itu, terutama di komunitasnya, semua mereka pelajari. Dari persoalan ibadah atau keagamaan sampai pada cara hidup sehari-hari orang Yahudi.

Dia juga mengatakan bahwa Yahudi sebenarnya ada kesamaan dengan Islam, seperti arah ‘kiblat’ Sinagoga yang sama dengan Masjid menghadap ke arah Barat jika di Indonesia, juga cara saat orang Yahudi beribadah yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Di dalam Sinagog ada semacam pembatas yang terbuat dari kayu setinggi dada orang dewasa, sebagai pemisah laki-laki dan perempuan.

Beberapa menit berlalu, Yakoov bercerita dengan apik, dia bahkan menjawab apa yang ada di dalam kepala kami. Tanpa kami bertanya, rupanya dia bisa menangkap isyarat bola mata kami yang sesekali melirik ke lemari tinggi yang terletak di depan mimbar itu. Tanpa berhenti bercerita di menyuruh temannya mengambilkan ‘isi’ dari lemari itu, lalu muncullah benda berbentuk bulat-panjang dengan kubah kecil di atasnya, benda itu berwarna hitam dan dihiasi dengan ukiran perak, cukup besar juga, ukurannya pas jika dipeluk anak TK. Yakoov menyebutnya sebagai “Gulungan Torah”, Torah berarti juga Taurat, yakni Kitab yang ditulis Nabi Musa.

“Isinya 5 kitab yang ditulis Musa, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Dalam gulungan Torah ini, totalnya ada 613 perintah, menyangkut masalah makanan, perempuan (menstruasi), membasuh tangan dan hal-hal detail, semuanya diatur,” jelas Yakoov, seraya memamerkan gulungan itu.

Pembuatan gulungan yang berisi tulisan bahasa Ibrani ini memerlukan waktu yang tidak sedikit. Dari 1 setengah tahun sampai 2 tahun penuh. Rupanya pembuatan Gulungan Torah, perlu perlakuan khusus dari penulisnya. Jika ada satu hurufpun yang salah maka harus diulang dari awal, dan gulungan yang salah itu harus dikuburkan.

“Tidak boleh disobek atau dibakar. Alasannya karena di gulungan itu ada nama Tuhan,” tutur Yakoov. Semua orang rupanya dibuat kagum dengan gulungan itu.

Namun, menurut Yakoov, Yahudi walaupun ada kesamaan dengan agama lain, juga mempunyai perbedaan yang harus digaris besar. Jika agama lain, seperti Islam dan Kristen punya istilah dakwah dan missionary, kamus Yahudi tidak mempunyai dua kata itu. Sang Rabbi berulang kali berucap, “agama Yahudi tidak pernah dibawa (melalui syiar)”.

Rabbi sendiri yang seorang pemuka agama Yahudi juga punya tugas sebagai ‘jembatan’ kaum non-Yahudi terhadap Tuhannya. Saat orang-orang dari luar Yahudi pergi ke Rabbi dengan keadaan kurang religius, dia harus berusaha agar orang itu menjadi religius lagi.

“Atau orang muslim yang sudah kurang peka agama, ketika sharing, Rabbi harus bisa menjadikan muslim itu saleh lagi,” jelas Yakoov.

Selain Yahudi adalah agama keturunan, Rabbi Yahudi juga dilarang untuk membujuk orang masuk Yahudi.

“Kalau lagi ada yang galau di agama lain, seorang Rabbi dia ‘nda boleh main caplok dari luar begitu. Wah, ini orang galau, sini-sini pindah yahudi. Itu ‘nda pernah ada cerita seperti itu,” kata Yakoov dengan nada candaan.

Sebuah entitas lagi minoritas

Lalu bagaimana dengan keberadaan Yahudi di Minahasa? Yakoov menjelaskan bahwa Yahudi adalah agama keturunan, walaupun ada juga yang melakukan konversi atau perpindahan ke agama Yahudi. Namun menurutnya, Yahudi diutamakan untuk keturunan bangsa Israel.

Dari penuturan Yakoov, Yahudi ada di Minahasa hampir sama sejarahnya dengan munculnya Yahudi di wilayah-wilayah lain di Indonesia, seperti Surabaya dan Jakarta yang dilansir juga punya komunitas Yahudi. Bahkan Padang, yang terkenal dengan mayoritas Islam juga punya cerita sendiri. Wajar saja jika kenyataannya Yahudi yang dibawa oleh penjajah, seperti Belanda dan Portugis, kemudian kawin-mawin, ternyata menghasilkan keturunan Yahudi.

Jauh sebelum itu, Yakoov juga mengklaim bahwa Yahudi telah datang bersama pedagang asing, “kalau kita di SD suka baca pedagang Gujarat yang datang itu, dikira dari India, padahal sebenarnya orang Yahudi dari Irak, yang lewat Bombai, Singapura, lalu ke Indonesia”.

Kejadian yang terjadi pada masa sekarang, banyak keturunan Yahudi di Indonesia yang belum tahu bahwa mereka adalah keturunan Yahudi.

“Orang-orang Yahudi ini mulai melupakan agama ini, mereka sudah konversi ke agama lain, ada yang menjadi muslim, Kristen dan lain-lain,” katanya.

Dengan kenyataan itu, Yakoov menuturkan jumlah keseluruhan dari keturunan (yang kembali ke agama Yahudi) dan pengikut (mereka yang konversi) berkisar dari 500-an sampai 1000 orang.

Di Minahasa, Yahudi mulai menampakkan diri melalui Sinagoga yang dipakai untuk beribadah sejak 12 tahun lalu. Sebelumnya Sinagog itu adalah rumah seorang Yahudi Belanda yang dibangun sekitar 20 tahun lalu, dan dihibahkan oleh perushaan Belanda kepada mereka pada 17 September 2004.

Jpeg
Prasasti tanda terima dari J.P Van Der Stoop, pemilik bangunan yang dihibahkan menjadi Synagogue. Dok. Memar

Pada saat itu mereka belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat sekitar yang mayoritas Kristen.

“Mungkin kurang paham, tidak paham, karena faktor ketidakeksisan agama Yahudi itu dari tahun ’40-an sampai sekarang. Sehingga ketika kami mulai ini semua, banyak yang bertanya-tanya, bahkan mungkin yang kesannya negatif. Seperti ini ajaran baru, perlu diteliti, dan lain-lain,” kenang Yakoov.

Dia sendiri pernah mendapat pengalaman buruk dengan media karena ke-Yahudiannya, “saya sempat trauma juga berapa tahun,” akunya.

Namun di samping banyaknya stigma negatif terhadap komunitas Yahudi di situ, ada juga yang peduli dan ikut membantu.

“Mantan Bupati, dia banyak renovasi bantu tempat ini tapi bukan atas nama pemerintah, cuma dari kocek pribadi. Tidak bawah APBD dan sebagainya. Yah, hanya itikad baik beliau saja untuk membantu gitu.” Juga setelah ada komunikasi dengan masyarakat sekitar, mereka sudah bisa diterima.

Komunitas Yahudi, bukan hanya di Minahasa tapi di Indonesia masih menjadi kelompok minoritas, Yakoov sendiri menyadari hal itu. Di Indonesia yang dikenal hanya ada 6 agama mayoritas, sisanya masih banyak yang belum bisa diakui secara administratif oleh negara. Mereka kesulitan dalam hal mengurusi persoalan administratif, seperti pembuatan KTP, Akta Kelahiran, dan Buku Nikah.

“Yang paling penting perkawinan. Karena selama ini orang Yahudi harus kawin 2-3 kali, setelah dia kawin Yahudi di sini, dia harus bikin lagi di luar secara Kristen di Gereja atau secara akad nikah, agar punya pengakuan dari negara. Jadi kesulitannya untuk dapat dokumen legal,” keluhnya.

Tak terasa sudah sejam lebih Yakoov berbicara di mimbar itu. Yobbi Ensel (42), Rabbi yang satunya hanya berbicara sesekali. Keduanya masih terus berbicara saat saya beranjak dan melihat-lihat isi Sinagoga. Rupanya banyak juga yang sudah keluar dari ‘lingkaran’ itu. Teman-teman saya sementara mengumpulkan ‘bahan belanjaan’. Ada yang bicara menanyakan fungsi dari kain lebar yang mirip surban kepada seorang kakek. Ada yang mewawancara seorang pria remaja, menanyakan apakah di sekolahnya tidak ada yang mem-bully-nya. Ada juga yang foto-fotoan dengan anak-anak. Begitulah, kami merasa seperti ada di rumah sendiri, damai dan nyaman.

Sampai-sampai, setelah kedua Rabbi itu usai berbicara, mas Towik memanggil kami pulang karena mengingat hari sudah mau malam, belum lagi jarak antara Kota Tondano di Minahasa dengan Kota Manado itu bisa memakan waktu berjam-jam. Namun belum ada yang beranjak, suara mas Towik tenggelam dengan riuh obrolan kami yang masih merasa nyaman menikmati Sinagoga.

Penulis/Reporter: Defry Sofyan

 

Catatan: laporan ini dibuat saat mengikuti agenda field visit workshop meliput isu Keberagaman oleh LPM Inovasi Unsrat, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF), 20 – 22 Mei 2016 di Manado.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.