Misogini yang Kita Pupuk Sehari-Hari

ilustrasi: pixabay.com

“Makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah.”

Saya melirik jam di tangan kiri saya yang menunjukkan pukul 07.15 Wita, pagi ini adalah jadwal kuliah yang membahas mengenai gender. Gender adalah hal yang baru untuk saya, karena saya mendengarnya ketika duduk di bangku kuliah.

“Pasangan suami istri. Perempuan mendapatkan bagian kerja lebih banyak daripada pria,” kata dosen saya. Hal pertama yang terbayang di kepala saya adalah ibu, saya mengingat saat ibu bangun subuh, mulai mempersiapkan segala kebutuhan ayah dan anak-anaknya.

Setelah itu, ibu akan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga, hingga menjelang sore mulai memasak untuk kami. Jika dipikirkan lagi, ibu adalah anggota keluarga pertama yang bangun dan terakhir yang akan tidur.

Kala itu, setelah kelas berakhir saya langsung mencari jurnal di internet tentang kesetaraan gender.

“Di Indonesia, di lingkungan pemerintahan maupun swasta, perempuan yang mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum sebanding dengan pria. Meskipun mempunyai menteri wanita, duta besar wanita, jendral wanita, bahkan pernah presiden wanita. Namun, itu masih kelihatan perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan pria yang menduduki jabatan tersebut.” (Tanti Hermawati, 2007)

Saya merasa tertarik dengan tulisan itu. Telusur demi telusur, pada akhirnya saya dipertemukan dengan istilah “misoginis”. Dari semua yang saya baca, “misoginis” berarti ‘perbuatan ketidaksukaan terhadap kaum wanita’. Membuat saya sadar jika misoginis juga terjadi di lingkungan saya.

Mari saya ceritakan tentang misoginis yang pernah saya temui.

Pada Minggu itu, saya lupa Minggu yang mana, kebetulan saya sedang libur kuliah menjelang pergantian semester. Hari itu, di desa sedang ada kegiatan gotong royong (kerja bakti) di masjid. Sembari bersiap-siap, terdengar suara pengeras suara dari masjid.

“Diharapkan bagi ibu-ibu, cewek-cewek agar sekiranya bisa lekas datang untuk membersihkan halaman masjid, terima kasih.”

Seketika saya mengernyit bingung dan bertanya-tanya, “apakah hanya para wanita yang bersih-bersih di masjid?”

Lengkap dengan cangkul, saya berjalan menuju masjid. Ketika sampai saya melihat halaman masjid yang penuh dengan rumput liar. Saya menuju ke tempat yang ditumbuhi rumput liar dan mulai membersihkannya bersama dengan beberapa pemuda lainnya.

Saat sedang mencangkul, saya dipanggil, “eh! Yuda sini angkat sampah saja, karungnya di sana, tugas pria angkat sampah, kan itu lebih berat kasihan kalau perempuan angkat,” kata imam masjid yang sedang asyik minum air dingin.

Saya lalu berlari mengambil karung, lantas saya melihat di mana tumpukan rumput yang akan dibuang. Sambil melirik para petinggi masjid yang disebut imam, saya membatin,, “entah jin mana yang merasuki diri mereka yang memilih bersantai di saat warga lain bekerja.”

Para wanita terlihat bekerja dengan ulet tanpa menghiraukan cuaca panas yang membakar kulit, dengan sigap saya mulai memasukkan tumpukan sampah yang telah dikumpul oleh mereka.

“Ibu kalau capek istrahat dulu, ini panas,” kata saya kepada wanita paruh baya di samping saya.

“Terus siapa yang mau kasih bersih?”

“Kan ada cowok-cowoknya Bu.”

“Sudah ini tugas perempuan,” balas si ibu kembali melanjutkan pekerjaan.

Sembari mengangkut sampah, saya berpikir, apa yang membuat perempuan memiliki pikiran bahwa itu adalah tugas mereka? Bahkan itu adalah pekerjaan yang lebih berat ketimbang duduk-duduk menikmati air dingin di cuaca yang panas ini. Entahlah, aku hanya merasa ironi.

Memang mengangkut sampah sekarung penuh tentu-lah sangat berat. Tapi bukan berarti perempuan tidak bisa, kan? Aku yakin bisa. Konstruksi sosial masyarakat yang membenarkan bahwa pekerjaan “berat” itu tugas khusus pria. Lantas ada sebuah konstruksi sosial yang berbeda di daerah lain.

Bali misalnya, perempuan bahkan melakukan pekerjaan yang dianggap “pekerjaan pria”, seperti pekerjaan kantor. Juga ada ritual keagamaan yang mengharuskan perempuan memakai rangkaian buah-buahan dan bunga sepanjang kurang lebih 120 centimeter di atas kepala, ini sering disebut Pajegan.

Tahun 2018 pernah ada ritual dengan menggunakan Pajegan sepanjang tiga meter dengan berat sekitar 30 kilogram. Membayangkan saja membuat aku ngeri. Tentu saja berat! Dan yang berat selalu dikaitkan dengan pekerjaan pria.

Seringkali, dapat kita lihat perempuan Bali mengambil pekerjaan yang disebut untuk pria, karena tergolong dalam pekerjaan yang “kasar”, seperti bekerja sebagai tukang susun di Pasar Badung yang memikul beban yang berat di atas kepala.

Saya teringat menjelang lebaran, di desa saya warga berlomba-lomba mengecat rumah. Jika dilihat, hampir semua pria yang melakukannya, perempuan tentu saja di dapur menyiapkan 4-5 toples kue, yang saya yakin hari kedua lebaran sudah tandas jika tidak dikunci di lemari.

Pertanyaan mulai bermunculan di kepala saya. Menjelang malam, saya memberanikan diri bertanya kepada ibu saya, dalam percakapan singkat itu saya mencoba bertanya seputar perempuan.

“Ibu, menurut ibu bagaimana perempuan yang memiliki pekerjaan yang lebih tinggi posisinya dari pada pria?”

“Pria itu pemimpin toh nak, malu lah pria kalo ada perempuan begitu.”

“Malu gimana Bu? Kan bagus punya penghasilan.”

“Ya bagus, tapi nanti yang ada pria malu buat melamar karena perempuan posisi kerjanya lebih tinggi dan harga diri pria bakal ciut, makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah,” kata ibu sambil asyik minum teh hangat.

Mendengar ini, saya merasa terkejut, dari mana datangnya pemikiran seperti itu? Pemikiran yang dimiliki oleh hampir setiap perempuan yang ada di desa, apa budaya memengaruhi pola pikir masyarakat tentang arti perempuan?

Saya pernah mengikuti upacara kebudayaan karena hasil panen yang melimpah di desa saya, dalam upacara tersebut para pria duduk sembari berzikir, sedangkan para wanita dengan telaten memasak dan membawa sesaji yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuh mereka.

Jika pria yang katanya mempunyai tenaga, bukankah seharusnya hal seperti itu dilakukan oleh para pria yang “tenaganya” lebih banyak?

Saya berpikir, ini adalah hal yang telah diajarkan sejak kita kecil dan terbawa hingga kita dewasa. Saat masa kecil contohnya, anak lelaki dibiasakan untuk bekerja berat seperti membajak sawah ditemani teriknya matahari, dan anak wanita berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Kebiasaan seperti inilah yang terbawa hingga mereka dewasa dan membangun rumah tangga.

Seorang perempuan misalnya, karena terbiasa dengan pekerjaan rumah, ketika menikah ia akan membawa kebiasaan yang sama, yaitu bangun saat subuh dan mulai memasak, membersihkan rumah, dan mempersiapkan pakaian yang akan dipakai anak dan suaminya untuk ke sekolah dan ke tempat kerja. Sedangkan seorang suami karena terbiasa dengan tuntutan bekerja dan menafkahi, akan bangun dan pergi ke kantor.

_ _ _

Pada suatu malam, saya ingat itu terjadi pada malam Minggu, saya bersama beberapa kawan sedang berkumpul di sebuah kedai kopi. Saat sedang asik bernostalgia tentang masa SMA. Tiba-tiba teman perempuan kami izin pamit dengan alasan sudah larut malam, dengan refleks saya mengangkat tangan kiri dan melihat jam tangan saya, pukul 21.20.

“Loh, baru jam sembilan ini kok sudah pulang?” Tanya saya.

“Iya kan anak cewek,” jawabnya memelas.

“Beda sama kalian cowok, bisa jaga diri, anak cewek tidak bisa di luar malam-malam nanti dikira cewek nakal,” lanjutnya sambil berdiri mengambil tas, bersiap untuk pulang.

Saya pernah menghadiri sebuah diskusi tentang misogini, dalam diskusi ini saya menemukan bahwa misogini terjadi tanpa kita sadari. Lingkungan masyarakat membenarkan bahwa seorang lelaki harus menjadi pemimpin untuk rumah tangga, sedangkan perempuan mempunyai tugas untuk memasak, mencuci, serta mengurus anak dan suami.

Perempuan juga mempunyai beberapa batasan-batasan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang lahir di masyarakat secara tidak langsung mengkerdilkan status perempuan di masyarakat, perempuan selalu disubordinasi dengan kepatriarkian lelaki.

Kita paham bahwa secara biologis, perempuan memiliki tiga hal yang telah dikodratkan oleh mereka, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya pekerjaan lainnya adalah pekerjaan-pekerjaan umum yang bisa dilakukan oleh perempuan maupun pria.

Konstruksi sosial yang dibangun di masyarakat secara tidak langsung melegitimasi perbuatan misoginis, seperti masyarakat membenarkan adanya hierarki, terkadang pelaku misogini tidak mengetahui bahwa mereka sedang melakukan misoginis.

Herannya perempuan juga terjebak dalam konstruksi sosial ini, dan melakukan misoginis kepada dirinya sendiri dan perempuan lain.

Penulis: Hudalil Mustakim (mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Gorontalo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.