Merayakan Hari Toleransi Internasional, Gusdurian Menggelar Diskusi Bersama Tokoh Lintas Agama

Diskusi film Tanda Tanya, yang dilaksanakan oleh Gusdurian, di Gedung Aula Universitas Nahdatul Ulama Gorontalo. Foto oleh Rindi Mariana Antika. Senin, (26/11).

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional (HTI), komunitas Gusdurian Gorontalo, melakukan pemutaran sekaligus diskusi film Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo. Pada diskusi kali ini, mereka mengangkat tema, “Mari yang Muda Bertoleransi”. 

Setelah pemutaran film, dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh Ni Komang Mardini. Diskusi yang berlangsung pada Senin (25/11), di Aula Nahdlatul Ulama Gorontalo, menghadirkan beberapa tokoh agama.

Moh. Djufrihard, pemuka agama Islam; Pinandita Ikomang Suardika pemuka agama Hindu; Ricardo pemuka agama Protestan;  dan Guntur pemuka agama Katolik.

“Apa yang dilakukan tangan kanan, tidak perlu diketahui tangan kiri. Artinya dalam bertoleransi dengan agama lain, tak ada batasan untuk saling menghargai, dan membantu orang lain, demi menjaga ketentraman, sekalipun yang berbeda keyakinan,” ujar Djufrihard membuka diskusi. 

Ungkapan Jufrihard ini, merespon salah satu adegan pada film Tanda Tanya yang menampilkan keadaan di mana seorang muslim, menyelamatkan gereja ketika mengetahui di dalam gereja terdapat sekotak bom pada saat ibadah sedang berlangsung. 

Adegan heroik ini, juga mampu memancing kehebohan dan decak kagum penonton.

Salah satu mahasiswa Universitas Gorontalo sekaligus peserta diskusi, William Janiarto, mengaku saat dibangku Sekolah Dasar, dirinya pernah mendengar guru agamanya membacakan Al-Quran, Surah Al-Maidah ayat 82,

“saya tidak tau bagaimana isinya, tapi yang jelasnya itu mengatakan bahwa, sesungguhnya yang kamu dapati, paling dekat persahabatannya dengan orang muslim, adalah orang-orang yang menyebut bahwa mereka nasrani.”

Merespon inisiatif diskusi film dalam memperingati Hari Toleransi Internasional, Suardika selaku pemantik diskusi mengaku telah menemukan maksud dari film yang ditayangkan sebelumnya. 

”Saya menemukan poin inti dalam pemutaran film ini, bagaimana kita menjadi manusia itu sendiri, di luar keyakinan kita masing-masing,

“berdasarkan kitab suci kita masing-masing, sehingga saya punya pandangan sendiri, saya bisa memahami agama saya, ketika saya membaca kitab suci agama lain,” tutur Suardika.

Selaku pemandu kegiatan sekaligus anggota Gusdurian, Komang mengaku bahwa sebelumnya Gusdurian telah melakukan beberapa rangakaian kegiatan, seperti, mengunjungi rumah-rumah ibadah, mengadakan Lingkar Gusdurian Kampus, “dan berakhir pada pemutaran dan diskusi Tanda Tanya.”

Komang juga menjelaskan bahwa dengan diadakannya kegiatan ini, Gusdurian bermaksud untuk mengajak generasi muda agar lebih toleransi, dengan berkaca pada tragedi pengeboman Gereja di Semarang, pada tahun 2011.

“Toleransi menjadi akar di mana bangsa kita menjadi kuat,” ujarnya.

Reporter: Rindi Mariana Antika, Afieny Rahim

Penulis: Rindi Mariana Antika

Editor: Ummul Uffia Turrahmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.