Menyaksikan Film Istirahatlah Kata-Kata

Merahmaron.com — Sabtu, (10/03), Pers Mahasiswa se-Gorontalo bersama Aliansi Jurnalis Independen Kota Gorontalo, Garasi Kata, dan para pendukung lainnya, mengadakan pemutaran film “Istirahatlah Kata-Kata”. Film yang mengisahkan tentang pelarian Widji Thukul ini sukses ditonton dengan aman hingga penghujung film.

Setelah penayangan film, diskusi pun dibuka dan dimoderatori oleh Edo, dengan pemantik diskusi Muhammad Djufryhard (Jhon), dan Muhammad Afif (Afif).

Jhon mengawali diskusi dengan membaca sebait dari puisi Widji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata”, judul yang sama seperti film yang diputar. Dia lalu mengutip kalimat dari istri Widji yang tampil di akhir film, kalimat yang membuat hampir seluruh penonton memekik, “aku tak ingin kau pergi, aku juga tak ingin kau pulang, tapi aku ingin kau ada”.

“Dilihat seperti sekarang, Widji Thukul selalu ada dan dikenal dengan karya-karyanya,” ucap Jhon membuka diskusi malam itu.

“Hal yang patut diperhatikan dalam film ini adalah tokoh perempuan yang dengan tegar menunggu suaminya pulang. Puisi-puisi Widji juga adalah puisi-puisi sederhana tentang apa yang dialaminya,” lanjut pria berkepala botak itu.

Alur film ini membawa kita ke masa Widji Thukul melakukan masa pelariannya, cerita seorang sastrawan yang menjadi buron karena puisi-puisinya yang konon bisa mengancam kestabilan Negara.

Sebuah adegan ketika Widji pulang ke kampung halamannya, istrinya bercerita bahwa rumah Widji didatangi setiap waktu, istrinya dipaksa untuk menandatangi surat penyitaan barang bukti berupa buku-buku Widji. Hal ini adalah bentuk penindasan, kata tak diijinkan untuk bergerak bebas, “seperti pada liriknya, bunga-bunga bermekaran dilarang untuk tumbuh,” kata Defri, salah satu penonton.

“Dalam catatan Pram banyak menuliskan mengenai hal yang sama, jauh sedari masa kolonial pembungkaman seperti ini telah terjadi. Dan, hal ini juga terjadi hingga sekarang. Sekarang menimpa kepada Novel Baswedan. Sama seperti Widji, mereka dibungkam karena menyuarakan kebenaran,” dia melanjutkan.

“Ada beberapa hal yang harus kita pahami dari film, bukan Widji sebagai sosok, tapi tentang apa yang Widji lakukan dan alami. Widji menampilkan segala sesuatu secara faktual melalui puisinya. Film ini juga menunjukkan kita agar kita jangan bias terhadap sejarah. Mungkin saja apa yang dialami oleh Widji saat itu, telah dialami orang lain saat ini,” ujar Afif di tengah-tengah diskusi.

Dia beranggapan, semakin ke sini, banyak hal yang sama terjadi. Hak Asasi Manusia rasanya tak lagi bermakna. Di Indonesia, banyak terjadi penindasan HAM secara disadari maupun tidak disadari. Kasus-kasus seperti perebutan hak tanah, perebutan hak untuk hidup, pembatasan dalam hal reproduksi, hak akan tubuh, hak akan pilihan bahkan hak untuk ber-Tuhan pun dicabut. “Tanpa kita sadari pula, kekerasan terhadap pacar, over protektif dan segala hal yang membebani kehendak sebenarnya adalah sebuah bentuk penindasan”. (Tr-Ummul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.