Cerita tentang Lahirnya Saudara Kandung: Perbudakan dan Rasialisme


  • Judul: Belas Kasih
  • Penulis: Toni Morrison
  • Penerjemah: Nanda Akbar Ariefianto
  • Ketebalan: 264 halaman
  • Ukuran: 14 x 20 cm
  • Penerbit: BASABASI
  • Terbit: Cetakan pertama, Mei 2018
  • ISBN: 978-602-5783-13-5

“Kupikir aku akan menulis ceritaku dan membacakannya untukmu. Tak berbeda dari menulis doaku,” bukanlah kutipan dalam buku itu. Kutipan ini saya pinjam dari Abigail, seorang tokoh dalam film The Help yang diperankan oleh Viola Davis.

Kalimat itu dia ucapkan sebagai penutup film. Awalnya, Abigail hanya seorang pembantu rumah tangga seperti kebanyakan orang Afrika-Amerika saat periode awal gerakan hak-hak sipil pada 1950-an di Amerika Serikat. Dia bersama teman-temannya yang hanya “ibu-ibu pembantu rumah tangga itu”, tak cukup berani untuk ikut serta dalam gerakan. Jangankan bergerak dalam artian ikut demonstrasi, mengutarakan pendapat terkait kondisi mereka saat itu pun tak berani, kendati menanggung kesengsaraan setiap hari.

Kegelisahan dan kebenciannya terhadap perilaku tak adil orang-orang kulit putih, hanya bisa ditulisnya pada buku doa setiap malam sebelum tidur. Hanya buku doa yang disimpan untuknya sendiri itu satu-satunya wujud perlawanan miliknya. Lantas apa yang kita harapkan darinya? Seorang perempuan Afrika-Amerika yang memikul beban gender dan ras sekaligus pada kondisi kehidupan yang berat. Selain doa yang dipanjatkan kepada “Tuhannya”, lalu berharap “Tuhan” akan meyampaikan doanya kepada kita agar mewujud menjadi perubahan. Ya, Abigail, seorang “budak” hanya mempunyai doa, sebuah usaha terlemah yang dimiliki manusia.

Begitu mungkin yang ada di benak Toni Morrison saat menulis novelnya yang bernama asli “The Mercy” ini. Dia menulis cerita di buku itu dengan membuat para tokohnya seperti berdoa untuk menyampaikan kisah mereka kepada pembaca. Gaya menulis yang tepat menurut saya untuk membuat kita dekat dengan kengerian yang dialami budak saat menjalani hari-hari biasanya.

Buku ini dimulai dengan seseorang tanpa nama yang tiba-tiba berucap, “jangan takut. Ceritaku tidak akan melukaimu, terlepas dari apa yang pernah kulakukan sebelumnya. Kau bisa menganggap ceritaku ini sebagai sebuah pengakuan,” (halaman 3). Tentu kita dibuat bertanya-tanya apa yang dianggapnya sebagai pengakuan ini. Toni ingin kita merasakan kebingungan dan ketakutan yang dirasakan oleh tokoh misterius itu.

Suara ini berasal dari Florens, tokoh utama novel, budak perempuan Afrika-Amerika yang menjadi pembantu di kediaman Jacob Vaark dan istrinya Rebekka. Dia berdasarkan rasnya dan konstruksi sosial yang dibangun saat itu, telah menjadi budak sejak dalam kandungan, sebagaimana para kulit berwarna lainnya. Namun, secara “resmi” dia menjalani perbudakan adalah ketika dia dijadikan alat transaksi tuannya yang pertama D’Ortega yang kehabisan uang untuk membayar utangnya kepada Jacob Vaark.

Saat itu Florens baru berumur delapan tahun, dia tak akan tahu bahwa apa yang dialaminya adalah perbudakan, karena dia belum pernah merasakan kehidupan yang lain. Dalam salah satu bagian cerita dia bahkan berkata, “aku tak mengerti kenapa mereka bersedih. Setiap orang harus bekerja,” (hlm. 61) ini saat dia melihat budak-budak lain selalu mengeluh dengan keharusan bekerja keras. Suatu kali dia bahkan pernah berkata, “beginikah rasanya menjadi merdeka? Aku tidak menyukainya,” (hlm. 109) saat dia dalam sebuah perjalanan yang jauh dari tuannya dan dari orang-orang, dia merasakan kesunyian dan kehampaan. Perbudakan seakan menjadi satu-satunya realitas baginya.

Sementara, bagi dua perempuan dewasa lainnya Rebekka dan Lina, Florens ha seorang gadis polos yang tak tahu apa yang dijalaninya. Hal yang paling dipedulikan Florens hanyalah si tukang besi, dia jatuh cinta sebagai remaja labil. Suatu saat Florens diperintah oleh Rebekka untuk menemui si tukang besi yang berada di luar kota kediaman mereka. Perjalanan jauh dan penuh pengalaman yang membuat Florens sadar akan arti perbudakan.

Dalam perjalanan itu, dia melewati suatu desa. Dia mengetuk salah satu rumah untuk mendapatkan tempat tidur, nyaris tak dizinkan masuk jika tidak membujuk si tuan rumah dengan identitas dirinya sebagai Kristen dan statusnya yang yatim piatu. Tuan rumah tampaknya cukup baik, tapi tidak dengan orang-orang di desa itu. Mereka menuduhnya sebagai jelmaan iblis akibat kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting.

“Mereka memutariku, membungkuk untuk memeriksa telapak kakiku. Berdiri tanpa pakaian di bawah pemeriksaan mereka. Aku mengamati apa yang ada di mata mereka. Tidak ada kebencian yang terpancar, tidak ada rasa takut atau jijik, tapi mereka mengamati tubuhku dari jarak tertentu tanpa penghargaan sedikit pun.” (hlm. 179).

Florens yang tadinya belum punya gagasan apapun tentang dampak perbudakan, akhirnya menyadari, bahwa seandainya saja tak ada surat yang menegaskan dia adalah properti dan utusan dari Rebekka Vaark, entah apa yang akan menimpanya. Dia merasa terluka karena tahu sebagai budak, dia tak punya harga diri sebagai manusia.

Tak cukup sampai di situ apa yang dialami Florens, ketika dia sampai di tempat tukang besi, dia disambut hangat dan dijanjikan akan dilindungi. Si tukang besi menyuruhnya agar tidak usah balik lagi ke tempat nyonya Rebekka karena tempat itu akan segera dihabisi oleh wabah cacar. Dia ditinggal oleh si pandai besi bersama Malaik, anak angkat pandai besi. Sepeninggal pandai besi, Florens yang polos itu, yang belum pernah berurusan dengan anak-anak harus menanggung rengekan dan sikap tak bersahabat Malaik.

Suatu kejadian terjadi, dia melukai Malaik berpas-pasan saat pandai besi tiba, tanpa bertanya apa yang terjadi, Florens dipukul dan diusir. Dia merasakan sakit yang luar biasa di hatinya, menurutnya kalaupun dia salah kenapa tidak menanyakan kepadanya apa yang sesungguhnya terjadi, kenapa saat itu si tukang besi tak bertanya apakah dia juga terluka atau tidak.

Dari sini kita bisa tahu apa yang dimaksud Florens dengan pengakuannya yang diceritakan di awal buku, kejahatan yang diperbuatnya (melukai Malaik) adalah sebuah kecelakaan. Di tengah kegamangan itu, tak ada orang yang bisa membuat perasaannya terobati. Di sinilah Florens sadar akan posisinya sebagai budak dalam sebuah kehidupan.

Sementara itu, Sorrow budak gadis yang berambut merah dan berkulit hitam menurut saya mengalami hal yang lebih menyedihkan dibanding Florens. Dia mengidap kelainan mental mungkin sejenis skizofrenia, membuatnya menciptakan teman khayalan bernama Twin, sosok satu-satunya yang dipercayainya.

Katanya, dia pertama kali “berkenalan” dengan Twin saat kapal yang menjadi rumah satu-satunya karam, semua orang yang dikenalinya ikut tiada. Sejak kecil hidup di kapal, dia merasa asing dengan daratan.

Dia lalu terdampar di pantai, ditemukan oleh penebang kayu dan istrinya. Awal menjejakkan kaki di daratan, dia harus hidup dengan istri penebang kayu yang sering menghardiknya. Bahkan, saat telah berada di kediaman Vaark, dia didiskriminasi oleh semua orang di situ, mereka menganggapnya aneh karena warna rambutnya yang merah, berkulit hitam dan tingkahnya yang tak becus.

Sampai suatu saat dia melahirkan seorang anak yang ayahnya tidak diketahui. Dia tiba-tiba mempunyai tujuan hidup baru, kehadiran sang anak membuat Twin lenyap, tak ada lagi teman khayalan. Ketika bekerja atau ada yang menyuruhnya, tak akan dirisaukan jika bayinya tiba-tiba menangis minta diperhatikan.

Lalu hal buruk terjadi, bayi yang disayanginya itu terinfeksi cacar. Lina mengatakan kepadanya, bayinya telah mati. Namun, dia bersikeras sempat mendengar anaknya menguap, tanpa memedulikan Sorrow yang menangis memohon, Lina tetap “memakamkan” anaknya di sungai. Melihat anaknya dikubur hidup-hidup, membuat Sorrow hancur berkeping-keping.

Cerita Florens dan Sorrow menggambarkan betapa nelangsanya mereka yang terlahir dan menjalani masa muda mereka sebagai budak. Tak hanya perbudakan sebagai praktik jual beli manusia, kerja paksa, penghapusan hak-hak sebagai manusia, dan yang paling kejam adalah mereka tak diberikan kesempatan untuk mencintai sesuatu. Di kondisi seperti itu, hanya dua kemungkinan yang akan terjadi kepada Florens dan Sorrow: berputus asa yang berarti menjadi gila atau bunuh diri; atau menjalani dengan tegar kehidupan sebagai budak, membuang semua mimpi-mimpi mereka.

Buku ini adalah buku kesembilan Toni Morrison setelah sebelumnya pada bukunya yang kelima “Beloved” mendapatkan Penghargaan Pulitzer kategori fiksi. Toni Morrison adalah penulis perempuan Afrika-Amerika yang fokus mengulas sejarah hitam Amerika: kolonialisme, perbudakan, dan rasialisme. Ketiganya, kolonialisme, perbudakan dan rasialisme sesungguhnya terkait satu sama lain seperti yang ditulis oleh Charlotte Reading pada publikasi ilmiah yang berjudul “Understanding Racism”. Menurutnya, rasialisme adalah cara pandang yang baru saja dikenal pada masa kolonialisme bangsa Eropa tahun 1680-an, akibatnya perbudakan dianggap hal biasa dengan dalih perbedaan ras: terpilih dan terbuang.

Jika “Beloved” bertemakan Perang Sipil Amerika pada tahun 1861-1865, saat masalah perbudakan atas orang-orang kulit hitam akhirnya pecah, buku ini membawa kita ke periode awal saat perbudakan di tanah Amerika baru saja dimulai. Dalam wawancaranya di National Public Radio, Morrison mengaku pada masa awal itu adalah tempat terbaik untuk melihat bagaimana rasialisme akhirnya terbentuk. Dia percaya, rasialisme bukanlah hal alamiah yang ada pada manusia, melainkan dikonstruksikan.

Proses ini seperti yang terjadi antara Messalina (Lina) dan Rebekka. Lina adalah seorang penduduk asli Amerika, dia pembantu sekaligus orang pertama yang tinggal bersama Jacob Vaark. Lalu datanglah Rebekka, calon istri tuannya. Seorang perempuan Eropa yang seumuran, berlagak sok kuasa, Lina pun geram dibuatnya. Namun, Lina masih sadar akan status sosial yang berbeda itu, di sisi lain Rebekka menyimpan rasa takut kepada Lina. Tapi saat melihat Lina merawat anak pertamanya dengan penuh kasih sayang, Rebekka merasa bersalah atas perasaannya itu.

Mereka lalu menjadi sahabat saat terpaksa harus mengurusi pertanian bersama-sama, keduanya sama-sama belum punya keterampilan bertani, mereka belajar bersama. Bisa dilihat, walaupun Lina statusnya masih seorang budak pembantu yang tidurnya terpisah dengan Rebekka, dan masih memanggil Rebekka dengan sebutan Nyonya, tapi ada kepercayaan yang dibangun. Artinya, pada tahap ini rasialisme belum benar-benar berlaku jika tidak dikatakan baru menjadi benih.

Sosok Jacob Vaark juga menarik, sebagai orang Eropa dan tuan tanah dia tak serta merta memperlakukan budak-budaknya yang bukan kulit putih seperti monyet. Dia memperlakukan si tukang besi layaknya pekerja biasa, diberi makan, digaji, bahkan bercengkrama dengan hangat. Si tukang besi memang berstatus “merdeka”, tapi dia berkulit hitam, maka Jacob sebagai orang yang memiliki privilese rasial tidak menggunakannya karena dia masih mempunyai pilihan. Artinya, rasialisme memang hanyalah sesuatu yang dikonstruksikan.

Morrison membuat latar cerita dari sebuah keluarga dengan komposisi ras yang lengkap, suami istri pemilik lahan dari bangsa kulit putih Eropa, dengan para pembantu Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika, dan ras campuran. Mereka ini Jacob Vaark, Rebekka Vaark, Lina, Florens, Sorrow, Willard Bond dan Sculy dengan masing-masing ketokohannya mendapat tempat sendiri dalam buku. Sudut pandang, gaya dan isi cerita tiba-tiba berubah saat tokoh yang bercerita berganti, jadi di antara mereka tak ada yang harus dikorbankan sebagai antagonis sejati. Kompleksitas sebuah realitas Amerika saat itu yang diwakili sebuah keluarga, diharapkan bisa terulas.

Toni Morrison dengan bukunya ini mengingatkan saya dengan Pramoedya Ananta Toer bersama karya-karyanya tentang kolonialisme di Hindia Belanda. Kita akan terbantukan memahami bagaimana kehidupan “pribumi” di masa pendudukan Hindia Belanda dengan melihat kisah Minke dan Pangemanann dalam Tetralogi Pulau Buru. Begitupun dengan sejarah Amerika yang diulas oleh Morrison secara fiksional ini. Kesengsaraan orang-orang akibat penjajahan memang tak cukup dibaca melalui buku sejarah sekolahan.

Penulis: Defri Hamid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.