Berkenalan dengan Yanto, Pemuda Pelestari Dana-Dana

Merahmaron.com — Tari Dana-Dana biasanya ditarikan pada acara penyambutan tamu, pesta pernikahan dan pada acara besar lainnya. Tarian ini biasanya diiringi oleh petikan gambus dan tabuhan rebana, menurut masyarakat Gorontalo tarian ini hanya bisa dijumpai di daerah Gorontalo begitu juga menurut masyarakat Maluku Utara, karena tarian ini juga ditarikan di daerahnya.

Tetapi akhir-akhir ini Tari Dana-Dana sudah sangat jarang dijumpai di Gorontalo. Jika biasanya acara hiburan pada pesta pernikahan, menampilkan Dana-Dana, sekarang mereka lebih sering menggunakan organ tunggal (alat musik elektonik) untuk mengiringi hiburan di pestannya, Tari Dana-Dana pun kini mulai terpinggirkan.

Pada pesta rakyat yang diselenggarakan oleh pemerintah pun, sekarang jarang dipentaskan.  Tidak hanya dana-dana saja, banyak juga tarian khas Gorontalo lainnya yang sudah sangat jarang dipentaskan, kecuali di event-event tertentu seperti pada festival budaya misalnya. Kurangnnya edukasi serta pengetahuan akan budaya saat ini menjadi sumber dari permasalahan tersebut.

Malam ini (19/3) beberapa pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Mohuyula Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, dipandu oleh orang dewasa dalam melakukan latihan Tari Dana-Dana.

Latihan mereka lakukan di salah satu rumah warga yang berada di pinggiran jalan Trans Sulawesi di Desa Potanga. Biasanya latihan mereka gelar, hanya pada kamis dan minggu malam, tetapi tim Merah Maron beruntung karena bisa melihat secara langsung latihan yang sedang mereka lakukan.

Sekitar dua puluh warga menonton latihan yang mereka gelar tersebut.

Menurut Yanto Nihali selaku wakil ketua Karang Taruna Mohuyula, kegiatan ini dilaksanakan untuk melestarikan budaya yang ada di daerah mereka, “kegiatan ini diinisiasi oleh karang taruna dan untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas, bahwa pemuda juga sadar akan budaya dan bisa untuk melestarikan kebudayaan mereka, lebih khususnya untuk dana-dana,”kata Yanto.

Latihan yang mereka lakukan tersebut sudah berjalan sekitar dua bulan, dalam sebulan mereka bisa melakukan latihan lebih dari enam kali. Tergantung kepada kesibukan dari masing-masing anggota.

Sekitar sepuluh orang memainkan rebana dan satu orang lagi memetik gambus. Di antara penabuh rebana ada dua anak-anak yang juga ikut serta. Yanto menjelaskan jika rebana yang dimainkan pada latihan kali ini adalah rebana yang dibuat sendiri.

“Rebana yang sedang ditabuh oleh pemain itu adalah hasil buatan dari karang taruna sendiri, karena jika kita membeli rebana yang terbuat dari kulit sapi harganya bisa mencapai Rp 150.000 per buahnya,” ujar Yanto.

Mereka juga menggunakan pengeras suara agar petikan gambus lebih terdengar, beberapa warga mulai berdatangan setelah mendengar suara gambus yang dikeluarkan oleh pengeras suara tersebut.

Dia juga menambahkan jika ada warga yang ingin mengundang mereka tampil pada acara-acara tertentu, yanto dan kawan-kawannya akan siap menghadiri dan menghibur dengan secara sukarela. Di saat pemuda lain seumuran dengan Yanto, sedang asyik bermain dengan gawainya. Yanto dan kawan-kawannya di Desa Potanga menyibukkan diri dengan latihan Dana-Dana. RENAL HUSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.