Aku Ingin Jadi Bayi

Dokumentasi pribadi

Untuk si kecil yang menangis dengan teriakan kencang, tenanglah sayang, ibumu akan segera datang.

Kau tak pernah sendirian.
Nikmatilah masa kecilmu itu,
itu adalah masa merdeka tanpa banyak beban pikiran, harapan dan kecemasan.

Jika mampu, aku ingin kembali ke masa sepertimu,
masa dimana kita hanya tau menangis dan teriak “mama,, matan” untuk minta makan.

Masa dimana kita akan kencing dan berak di mana saja tanpa mempedulikan rasa malu dan dilihat orang lain.

Bagiku itu adalah masa-masa merdeka selama kita lahir di dunia.
Jika kita berfikir bahwa dewasa, punya penghasilan tetap, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang tetap, harta yang mampu menghidupi 7 turunan adalah merdeka

Kurasa tidak, pemikiran apa yang akan dimakan besok?
Apa yang akan dilakukan besok?
bagaimana menyelesaikannya pekerjaan ini?

Itu adalah bentuk penindasan terhadap otak.

Jika kalian mengatakan itulah merdeka, maka bagiku kalian tak paham arti kata MERDEKA.

Dan sekarang! Kurasa aku tidak akan pernah merdeka, karena kemerdekaanku telah dirampas oleh pubertas masa remaja dan pola pikir yang dituntut ketika dewasa.

Gorontalo, 21 Februari 2018

Puisi oleh Ummul Uffia Turrahmah, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.