AJI Kota Gorontalo Menggelar Diskusi tentang Misogini

Ian Morse sebagai pemandu diskusi bersama Arinda Nafsia Mutmainnah Gawa dan Nurhikmah Biga sebagai pemantik diskusi. 15 Mei 2019. Foto oleh Defri Sofyan.

Masih langgengnya ketidaksetaraan terhadap perempuan yang terjadi di masyarakat, menjadi latar masalah diskusi “Kehidupan Perempuan Gorontalo dalam Paradigma Misoginis” yang dibuat oleh AJI Kota Gorontalo.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (15/5), di Sekretariat AJI Kota Gorontalo, Jl. Durian II, Tomulabutao, Dungingi- Kota Gorontalo. Dipandu oleh Ian Morse, jurnalis lepas yang tertarik pada isu feminisme, selaku moderator, dengan dua pemantik diskusi. Pemantik pertama Arinda Nafsia Mutmainnah Gawa, seorang anngota Tim Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Humanika.

Tim Redaksi LPM Humanika ini, sebelumnya telah membuat sebuah liputan mendalam yang membongkar pelecehan seksual oleh beberapa dosen terhadap sejumlah mahasiswa di IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Selain Arinda, ada juga Nurhikmah Biga, seorang aktivis dari Sahabat Anak Keluarga dan Perempuan atau sering disingkat Salampuan.

Pada awal diskusi, Ian mengajak peserta diskusi untuk memahami akar ketidaksetaraan gender dengan menonton sebuah film melalui kanal Youtube bernama Aliansi Laki-Laki Baru dengan judul yang sama, “Memahami Ketidaksetaraan Gender”.

Film berdurasi 6 menit 29 detik ini mengulas mengenai ketidaksetaraan yang diterima perempuan modern karena konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dan dari mana sebenarnya akar penindasan itu lahir.

“Patriarki itu adalah hasil dari konstruksi sosial dan ada di mana-mana,” kata Hikmah ketika memulai diskusi. Pada diskusi ini, Hikmah banyak bercerita mengenai bagaimana gender dipandang dalam sudut pandang Islam.

Hikmah menjelaskan bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang feminis, dia merujuk pada konsep ketuhanan dalam Islam, “contohnya saja asmaulhusna, sifat-sifat baik Allah yang sering kita baca itu, sebagian besar feminis.”


“Kesalahan kita sebenarnya hanya pada belum masifnya pembaruan hukum Islam sejak banyak orang yang mengikuti empat mazhab besar,” katanya.

Jika Hikmah banyak berbicara mengenai gender dan posisinya dalam Islam. Arinda lebih kepada proses apa saja yang terjadi ketika ia melakukan liputan yang mendalam untuk kasus pelecehan seksual di kampusnya.

Pada diskusi ini, Arinda secara gamblang mengatakan apa yang dialaminya ketika liputan. Mulai dari bagaimana kasus itu lahir dari sebuah curhatan teman hingga bagaimana cara ia membantu Andin (korban pelecehan seksual dalam berita “Di Bawah Cengkraman Dosen Mesum”) untuk melaporkan kasusnya ke ranah hukum setelah kasus berhasil dibongkar.

Arinda juga menyinggung bagaimana sebuah pelecehan seksual secara verbal oleh seorang dosen melalui media sosial dianggap sebuah kewajaran oleh mahasiswa, “kita tidak pernah tahu, mungkin saja hal itu pernah terjadi pada diri kita secara tidak sadar.”

Dia juga sangat menyayangkan bagaimana perempuan diposisikan sebagai seorang yang bersalah ketika berada dalam sebuah kasus pelecehan seksual.

“Menurut saya ini adalah rape culture, dan saya mulai tersadar ternyata kita memperjuangkan hak-hak perempuan itu, tidak hanya melalui organisasi atau gerakan. Tetapi dalam memperjuangkan hak-hak perempuan kita memerlukan kesadaran.”

Setelah sesi diskusi dibuka, beberapa dari peserta memberikan pendapat dan juga pertanyaan kepada pemateri. Salah satunya adalah Atay, aktivis perempuan dari Wire-G. Dia mengatakan misogini ternyata tidak hanya dilakukan laki-laki terhadap perempuan, namun perempuan juga berpotensi untuk melakukan misogini terhadap sesamanya.

“Memang secara tidak sadar kita perempuan juga melakukan itu (misogini), ada kewajaran-kewajaran bukan hanya kebencian terhadap perempuan ini tidak hanya dilakukan oleh laki-laki tetapi juga perempuan.”

Misogini sendiri secara umum dipahami sebagai sebuah perilaku di mana seseorang merasa benci terhadap perempuan.

Ummul Uffia Turrahmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.