Di tengah gejolak Timur Tengah yang tak berkesudahan, Lebanon kembali menjadi sorotan dunia karena menanggung beban berat konflik bersenjata. Sebuah laporan terbaru mengungkap skala kehancuran yang mengerikan, menggambarkan dampak pilu dari agresi militer yang berkepanjangan terhadap kehidupan masyarakat sipil.
Selama 45 hari yang mencekam, wilayah Lebanon menjadi target gempuran tiada henti dari pihak Israel. Serangkaian serangan udara dan darat yang masif ini telah meninggalkan jejak kehancuran yang tak terhapuskan, tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada sendi-sendi kehidupan warga.
Data yang tercatat sangat mengkhawatirkan: gempuran tersebut telah merenggut setidaknya 2.400 jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata ribuan keluarga yang porak-poranda, kehilangan orang-orang terkasih mereka secara tragis. Selain korban jiwa, kerusakan properti juga mencapai taraf yang sangat parah. Tercatat, serangan Israel menghancurkan sekitar 62.000 unit rumah penduduk di berbagai wilayah, mengubah pemukiman padat menjadi reruntuhan dan memaksa puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal serta mata pencarian mereka.