Sebuah gagasan monumental tengah digulirkan oleh Gubernur Jakarta Pramono Anung, yang berpotensi mengubah lanskap peringatan kebudayaan dan keagamaan di ibu kota. Rencana ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah inisiatif ambisius untuk menghidupkan kembali dan mengabadikan jejak para ulama Betawi yang telah mewarnai peradaban Jakarta.
Dalam langkah bersejarahnya, Gubernur Pramono Anung mengumumkan bahwa ia memiliki visi untuk menyelenggarakan acara haul, sebuah peringatan tahunan untuk mengenang jasa dan kontribusi ulama-ulama besar dari komunitas Betawi. Acara ini direncanakan akan bertempat di jantung kota, yaitu Kawasan Monumen Nasional (Monas), dan digagas untuk menjadi agenda rutin yang akan digelar setiap tahun.
Keputusan memilih Monas sebagai lokasi penyelenggaraan bukan tanpa alasan. Lokasi ikonik ini diharapkan mampu menarik perhatian luas dan menegaskan pentingnya peran ulama Betawi dalam membentuk karakter religius serta budaya Jakarta. Para ulama Betawi dikenal sebagai penjaga tradisi, penyebar nilai-nilai Islam, dan tokoh-tokoh yang gigih memperjuangkan identitas lokal di tengah arus modernisasi. Melalui peringatan haul, generasi muda dapat lebih mengenal dan mengapresiasi warisan intelektual serta spiritual mereka.
Agenda haul tahunan ini diproyeksikan tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga wadah untuk memperkuat silaturahmi antarumat, serta memupuk semangat kebersamaan di antara berbagai elemen masyarakat Jakarta. Harapannya, inisiatif ini akan memperkaya khazanah budaya Betawi, sekaligus meneguhkan Jakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi sejarah, agama, dan kearifan lokal para pendahulunya.