Pidato Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, di simposium Jackson Hole pada 22 Agustus 2025, memicu reaksi positif yang signifikan di pasar kripto. Hanya dalam hitungan detik setelah pidatonya, Bitcoin melonjak tajam mencapai US$ 117.377 (sekitar Rp 1,9 miliar), sementara Ethereum mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 4.891 (sekitar Rp 79,6 juta). Apa yang sebenarnya dikatakan Powell yang menyebabkan lonjakan harga ini?
Powell menyatakan bahwa inflasi di Amerika Serikat kini jauh lebih terkendali. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa inflasi berada di jalur yang berkelanjutan menuju target 2 persen. Data menunjukkan kenaikan harga hanya sebesar 2,5 persen selama 12 bulan terakhir. Kabar ini disambut positif pasar karena meredakan kekhawatiran akan tekanan harga yang tinggi. Penurunan inflasi ini memberikan rasa optimisme di pasar.
Lebih lanjut, Powell menekankan bahwa penurunan inflasi tidak diiringi oleh peningkatan pengangguran yang signifikan. Meskipun tingkat pengangguran naik menjadi 4,3 persen, hal ini bukan disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja massal, melainkan oleh peningkatan jumlah tenaga kerja baru. Pernyataan Powell, “Kami tidak menginginkan pendinginan tenaga kerja lebih jauh,” menunjukkan optimisme akan kekuatan ekonomi Amerika Serikat dan menghindari resesi yang parah. Kondisi ekonomi yang stabil ini berpengaruh positif terhadap pasar.
Salah satu pernyataan Powell yang paling dinantikan investor adalah: “Waktunya kebijakan disesuaikan. Arah kebijakan sudah jelas, dan waktu serta laju pemangkasan suku bunga akan bergantung pada data.” Ini menjadi sinyal kuat bahwa era suku bunga tinggi mulai berakhir, sebuah kabar gembira bagi pasar kripto yang selama ini terdampak kebijakan moneter yang ketat. Pengurangan suku bunga diperkirakan akan meningkatkan likuiditas dan mendorong investasi di aset berisiko tinggi seperti kripto.
Powell juga mengakui kesalahan The Fed dalam membaca inflasi pada tahun 2021, di mana inflasi dianggap sebagai fenomena sementara (“transitory”). Kesalahan ini memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengendalikan inflasi. Kini, dengan inflasi yang terkendali, Powell menunjukkan perubahan arah kebijakan moneter. Perubahan sikap ini, yang sering disebut sebagai “dovish”, dianggap sebagai katalis utama bagi kenaikan harga kripto. Perubahan ini mirip dengan efek yang terjadi di Jackson Hole pada tahun 2020-2021 yang memicu kenaikan harga kripto secara signifikan.
Reaksi pasar kripto terhadap pidato Powell sangat cepat dan signifikan. Bitcoin dan Ethereum mengalami lonjakan harga yang tajam, jauh lebih cepat dibandingkan dengan reaksi di pasar saham. Investor melihat peluang besar dalam kripto karena likuiditas global yang longgar akan mendorong investasi ke aset-aset berisiko tinggi dengan potensi keuntungan yang tinggi. Hal ini memperkuat posisi kripto sebagai aset yang menarik bagi investor yang mencari keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang.
Kesimpulannya, pidato Powell di Jackson Hole 2025 merupakan momen bersejarah bagi pasar kripto. Kombinasi inflasi yang turun, terhindarnya resesi, dan peluang pemangkasan suku bunga menciptakan katalis baru yang signifikan. Bitcoin dan Ethereum menjadi yang paling merasakan dampak positifnya. Namun, pertanyaan besar tetap ada: apakah ini awal dari bull run kripto yang baru? Perkembangan selanjutnya perlu dipantau dengan cermat untuk melihat kelanjutan tren ini. Faktor-faktor eksternal lainnya, seperti regulasi dan perkembangan teknologi blockchain, juga akan memainkan peran penting dalam membentuk arah pasar kripto ke depan.